Persi Jawab Tudingan RS Sengaja Mengcovidkan Pasien

0
455
Sekjen Persi Lia G. Partakusuma jawab tudingan RS sengaja mengcovidkan pasien. (Istimewa)

KLIKMU.CO – Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) buka suara soal tudingan rumah sakit sengaja mengcovidkan pasien. Sekjen Persi Lia G. Partakusuma amat menyayangkan tuduhan itu.

Menurutnya, sudah sekitar 1,5 tahun pandemi Covid-19 ada di Indonesia, tapi masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa rumah sakit (RS) seringkali mengcovidkan pasien. Itu mengacu pada pasien yang tidak terkena Covid-19, tapi dibuat Covid-19 oleh RS.

“Kalaupun ada istilah mencovidkan pasien, saya rasa itu oknum. Kami tidak pernah sama sekali menginginkan satu pun RS yang mengcovidkan. Itu yang mudah-mudahan tidak ada satu pun RS yang berkeinginan untuk mencovidkan karena itu tidak baik. Dampaknya juga angat buruk untuk rumah-rumah sakit seluruh Indonesia,” ujarnya dalam acara Temu Media Persi, Ahad (20/6/2021).

Lia menjelaskan, kalaupun ada RS yang mengcovidkan, lalu menyamaratakan 3.000 RS seperti hal yang sama, tentu rasanya tidak benar. Karena itu, pihaknya berharap masyarakat untuk tabayun.

“Lebih baik kita dudukkan bersama persoalannya. Kalau perlu kita tanya betul bagaimana. Mungkin kesalahpahaman dalam penyampaian. Itu yang lebih sering terjadi,” lanjutnya.

Lia menjelaskan, ada aturan ketat dalam penetapan pasien positif Covid-19. Antara lain, RS harus melampirkan banyak sekali dokumen pendukung untuk menyampaikan bahwa pasien tersebut Covid-19.

“Jadi, masyarakat jangan juga merasa bahwa oh kalau memang diagnosis Covid-19 itu pasti akan diklaim oleh RS sebagai pasien Covid-19. Itu juga belum tentu. Dan tentunya kami mengimbau sama-sama kita menaruh kepercayaan bahwa dokter akan mengobati sesuai kondisi pasien,” jelasnya.

Dia mengakui memang ada satu kendala saat awal diagnosis yang membutuhkan waktu yang lama. Khususnya untuk RS dengan fasilitas yang tak lengkap. Sementara itu, RS besar tentu hasilnya akan lebih cepat.

“Nah, kemudian satu lagi saya sampaikan bahwa yang namanya pemeriksaan laboratorium akan tergantung dari individu. Jadi, tidak misalnya satu orang diperiksa hari ini negatif, kemudian satu minggu kemudian dia negatif,” ujarnya.

Bahkan, dia menilai ada satu proses saat replikasi virus itu membutuhkan waktu. Bisa saja ada gejala, tapi memang belum terdeteksi oleh alat diagnostiknya.

“Nah, ini memang yang harus betul-betul kita perhatikan. Banyak hal yang bisa menyebabkan hasil diagnostik ini punya satu kekurangan. Jadi, ada satu kekurangan bahwa mungkin saja tidak ditemukan pada saat itu, tapi bisa ditemukan pada saat yang lain atau sebaliknya,” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here