Perspektif Haidir #68: Jangan Turun dari Mobil jika Ditahan Polisi

0
125
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Selama dua tahun lebih berada di Australia, baru kali ini saya ditahan polisi, tepatnya diperiksa polisi. Malam ini, ba’da Isya, dalam perjalanan dari rumah ke sebuah supermarket.

Menemani nyonya belanja sembako. Harus malam ini belanja, karena tidak sempat tadi siang. Dia sibuk dengan pelajarannya. Esok ada acara KKSS di Sydney, jadi harus bawa makanan.

Jarak dari rumah ke supermarket ini, cukup dekat,  kurang dari dua setengah kilometer. Saya bahkan kalau pergi ke sana siang hari, jalan kaki saja. Melewati jalanan ke arah sekolah anak-anak kami. Berada di Suburb Fairy Meadow, bersebelahan dengan tempat tinggal kami di Suburb Keiraville.

Sesaat sebelum tiba di lokasi, dari jauh saya lihat tanda-tanda polisi menyalakan lampu kedap-kedip. Beberapa polisi tampak berjaga-jaga. Seorang perempuan polisi, mengarahkan kami ke pinggir. Nyonyaku bilang, minggir dan berhenti. Tunggu polisinya datang ke mobil, jangan turun.

Jangan turun, katanya beberapa kali. Buka kaca jendela dan dengarkan perintahnya. Di sini memang demikian. Bila distop oleh petugas polisi, tidak boleh turun. Berbahaya jika turun.

Dalam keadaan demikian, Polisi berhak menembak orang yang turun dari mobil. Aturannya tetap di mobil, buka kaca jendela, tunggu sampai polisnya datang. Saya pernah dengar dulu, ada seorang mahasiswa Indonesia hampir ditembak karena dia turun dari mobil. Untungnya dia segera masuk ke mobil.

Beberapa saat kemudian pak Polisi datang  mendekat ke pintu samping kanan saya. Menanyakan apa kalian minum? Tidak. Coba hitung satu sampai sepuluh, katanya sambil mendekatkan alat pendeteksi ke mulutku.

Sepersekian detik kemudian, selesai, silahkan jalan, katanya. Lalu kami berlalu dan kini sudah tiba di supermarket.  Dengan demikian saya bebas dari pendeteksian alat tadi. Sekiranya saya minum minuman keras dengan dosis lebih, maka alatnya akan bunyi. Karena alat pendeteksinya tidak bunyilah sehingga kami dibiarkan berlalu.

Karena ini adalah pengalaman pertama, saya sempat was-was. Meskipun semua persyarakatan kendaraan terpenuhi, tetap saja ada rasa khawatir. Di sini saya menggunakan SIM A dari Indonesia, tetapi harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh lembaga resmi. SIM saya diterjemahkan oleh KJRI Sydney, dengan biaya dua ratus lima puluh ribu Rupiah.

Tidak semua negara bagian Australia memberlakukannya. Tergantung kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah setempat. Termasuk yang memberlakukannya adalah New South Wales, tempat kami berada.

Ternyata tadi Pak Polisi hanya mengadakan pemeriksaan rutin bagi kendaraan yang lewat. Biasanya adalah pada malam Jumat atau hari-hari tertentu. Orang-orang menerima gaji tadi siang. Di sini gajian sekali seminggu, yakni pada hari Kamis. Jadi mereka suka keluar berkendaraan untuk belanja atau minum-minum. Terutama anak-anak muda.

Polisi memeriksa apakah pada saat mengemudikan mobil, sambil menenggak minuman keras melebihi ambang batas yang dilegalkan. Atau sedang memakai narkoba. Itu saja. Dia tidak memeriksa sama sekali SIM dan STNK. Itu bukan bagian dari pemeriksaan yang mereka lakukan.

Sebagai tambahan, di Australia, adalah melegalkan minuman keras.  Toko-toko bebas menjual minuman keras kepada orang dewasa saja. Tetapi pada beberapa kawasan, dilarang minum minuman keras. Terutama di tempat-tempat umum, seperti pantai, kebun bunga atau fasilitas bermain untuk anak-anak.

Pemeriksaan pengemudi yang beralkohol di sini sangat penting. Lebih penting daripada memeriksa surat-surat mobil. Sebab berkendaraan sambil menenggak minuman keras dengan dosis yang berlebihan, tentu sangat berbahaya. Bukan hanya pada dirinya sendiri, melainkan kepada orang lain.

Sebenarnya pada awal-awal saya datang di sini, pun pernah hampir diperiksa polisi pada satu malam. Saat itu kami baru pulang dari menghadiri acara penerimaan hadiah untuk putriku. Menjelang satu belokan di jalan poros, beberapa polisi sudah menunggu kami.

Saat mobil kami sudah dekat, seorang polisi mengatakan terus saja jalan. Sedangkan mobil yang lain diperiksa. Kami tak tahu kenapa Pak Polisi tidak menahan atau memeriksa kami. Mungkin karena saya pakai jilbab, kata nyonyaku. Barangkali Pak Polisi menyadari, bahwa seorang Muslim tidak akan meminum minuman keras. Wallahu’alam. (*)

 

Wassalam

Haidir Fitra Siagian

Fairy Meadow, 11.06.21

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here