Perundungan Berujung Duka, Noda Kurikulum Merdeka

0
47
Andi Hariyadi, Guru, Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi PDM Surabaya. (Pribadi/KLIKMU.CO)

Oleh: Andi Hariyadi
Guru, Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi PDM Surabaya

Lingkungan sekolah adalah sarana yang strategis untuk meningkatkan keilmuan. Perlu diciptakan model interaksi di sekolah yang kompetitif dengan karya keunggulan dan karakter persaudaraan yang menyenangkan sehingga peserta didik terus termotivasi mengembangkan potensi diri sebagai bekal kehidupan dengan kemandirian, keuletan, dan kekompakan bergotong royong sebagai salah satu bentuk implementasi Kurikulum Merdeka melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Diharapkan nilai-nilai Pancasila menjadi satu kesatuan dalam proses pembelajaran.

Desain program P5 begitu bagus, tetapi masih perlu perhatian kita semua, khususnya dalam implementasinya. Sebab masih sering muncul perundungan dengan beragam motifnya baik terkait permusuhan maupun refleksi rasa senang, namun berujung kekerasan sehingga ada korban yang sakit maupun terbunuh. Keadaan seperti ini seharusnya sudah bisa berkurang, tetapi semakin mengerikan.

Seperti viralnya pemberitaan meninggalnya Fajar Nugroho, seorang pelajar sekaligus ketua OSIS SMAN 1 Cawas Klaten, saat merayakan ulang tahun (8/7/2024). Dia diceburkan di kolam sekolah dan tersengat setrum.

Teman-temannya seakan tidak terduga penyambutan ulang tahun berakhir kematian. Pihak keluarga dan sekolah merasa berduka atas kejadian ini. Anak yang diharapkan keluarga dan sekolah yang tahu akan prestasi selama ini, menjadi kenangan dan pembelajaran bagi kita semua untuk bisa diambil hikmahnya.

Penanaman nilai-nilai Pancasila harus lebih ditingkatkan, tidak sekadar diwacanakan ataupun sekadar seremonial belaka. Kejadian ini membuka kesadaran kita, ada sesuatu yang belum terkoneksi dalam proses pendidikan kita. Memang sudah banyak yang berhasil menuai prestasi, tetapi kita benar-benar tersentak masih terjadi perundungan hingga berujung kematian.

Kemegahan gedung sekolah dan sarana yang memadai ternyata masih ada yang berbuat tanpa nalar yang cerdas dan setelah kejadian baru ada penyesalan. Maka pembangunan fisik sekolah hendaknya juga dibangun mental dan spiritual sehingga sekolah menjadi pusat pendidikan karakter yang beradab dan nalar yang mengerti tanggung jawab. Persoalan seperti ini jangan diremehkan dan terus melakukan evaluasi yang konstruktif guna mencegah terjadinya aksi destruktif yang brutal.

Para pendidik di sekolah diharapkan lebih menyibukkan diri dengan pendampingan ke siswa dengan nilai-nilai Pancasila dan itu lebih berarti. Bukan sekadar menyibukkan administrasi pembelajaran. Pendidikan di era digital dengan jaringan akses informasi yang begitu luas dan cepat tersaji sangat mudah memengaruhi karakter diri. Jangan sampai anak didik kita terpapar dengan sajian digital yang brutal, tetapi kita dampingi untuk cerdas digital dan ramah beretika sosial serta dikuatkan persaudaraan.

Jangan ada lagi korban siswa akibat kekerasan dengan berbagai motifnya, karena sekolah bukan untuk melahirkan premanisme. Tumbuhkan di sekolah dengan ide-ide kreatif dan inovatif yang menunjang proses pendidikan berkelanjutan menuju Indonesia Emas yang sudah dicanangkan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini