Oleh: H. Muhamad Jemadi SAg MA MPd
Wakil Ketua PDM Surabaya
Disampaikan dalam khotbah Jumat di Masjid KH M. Anwar Zain, Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Surabaya, Jumat (20/2/2026)

Pendahuluan
Ramadan selalu hadir bukan hanya sebagai bulan ibadah ritual, tetapi sebagai bulan pendidikan kemanusiaan. Islam tidak sekadar memerintahkan manusia untuk beribadah, melainkan juga melindungi manusia dari kehancuran moral. Karena itu Rasulullah memberikan satu definisi yang sangat dalam tentang puasa: الصِّيَامُ جُنَّةٌ “Puasa adalah perisai.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kata junnah berarti tameng dalam peperangan—alat yang melindungi seseorang dari serangan mematikan. Pertanyaannya: dari apa manusia dilindungi? Dari lapar? Tidak. Dari haus? Bukan. Puasa adalah perisai dari dosa, hawa nafsu, dan kehancuran batin.

Untuk memahami kedalaman makna ini, kita dapat mengkajinya melalui tiga pendekatan epistemologi Islam: bayani (teks wahyu), burhani (rasional-ilmiah), dan irfani (pengalaman spiritual).
Pendekatan Bayani: Analisis Teks Wahyu
Allah SWT berfirman (QS Al-Baqarah: 183)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ… لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa takwa berarti kemampuan menahan diri dari maksiat. Artinya, tujuan utama puasa bukan lapar, melainkan pengendalian diri. Rasulullah juga bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
(HR Bukhari)
Puasa bukan ibadah biologis, tetapi ibadah moral. Ia melatih manusia menahan lisan, emosi, dan perilaku. Nabi juga bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini tidak bermakna biologis semata, tetapi menunjukkan bahwa godaan setan sangat dekat dengan sistem dorongan manusia—terutama syahwat dan emosi. Maka puasa menjadi mekanisme perlindungan ilahi.
Pendekatan Burhani: Analisis Rasional dan Psikologis
Mengapa puasa disebut perisai? Karena hampir seluruh dosa berawal dari ketidakmampuan mengendalikan dorongan (impulse control). Dalam psikologi modern, manusia memiliki sistem impuls (limbic system) dan sistem kontrol (prefrontal cortex). Ketika dorongan lebih kuat daripada kontrol, manusia jatuh pada perilaku destruktif: marah, kecanduan, kekerasan, dan korupsi. Rasulullah telah memberikan terapi:
… فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
(HR Bukhari Muslim)
Puasa menurunkan impuls biologis dan meningkatkan pengendalian diri. Penelitian psikologi self-control (Walter Mischel) menunjukkan bahwa kemampuan menunda kesenangan merupakan faktor penting dalam stabilitas emosi dan moralitas. Secara ilmiah, puasa menurunkan impulsivitas, meningkatkan kesabaran, dan memperkuat kesadaran diri. Karena itu puasa adalah latihan pengendalian diri paling komprehensif dalam sejarah spiritual manusia.
Pendekatan Irfani: Analisis Spiritual dan Tasawuf
Para ulama tasawuf memahami puasa sebagai proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Allah berfirman dalam QS Asy-Syams: 9–10
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa perut kenyang menguatkan syahwat, sedangkan lapar melembutkan hati dan membuka cahaya hikmah. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa setan masuk melalui jalur syahwat. Ketika makan dikurangi, jalur tersebut menyempit. Maka bukan kebetulan orang yang berpuasa lebih mudah menangis saat berdoa, lebih lembut hatinya, lebih mudah bersedekah, dan lebih dekat dengan Al-Qur’an. Puasa bukan hanya menahan tubuh, tetapi menenangkan jiwa.
Perisai puasa bukan hanya personal, tetapi juga sosial. Jika puasa benar, kekerasan berkurang, korupsi menurun, keluarga lebih harmonis, empati sosial meningkat. Puasa melatih manusia menahan yang halal (makan dan minum) agar ia mampu meninggalkan yang haram.
Penutup
Puasa yang berhasil bukan sekadar menahan lapar, tetapi yang mengubah karakter. Jika setelah Ramadan manusia lebih sabar, jujur, dan terkendali, maka puasa telah menjadi junnah, perisai sejati. Karena itu Nabi tidak mengatakan puasa menghapus lapar, tetapi: الصِّيَامُ جُنَّةٌ. Puasa adalah perisai—perisai dari dosa, perisai dari nafsu, dan perisai dari kehancuran manusia itu sendiri.
Semoga Ramadan menjadikan kita pribadi bertakwa yang mampu mengendalikan diri, menjaga hati, dan menghadirkan rahmat bagi sesama.
Wallahu a‘lam bish-shawab. (*)








