Refleksi Milad Ke-112, Muhammadiyah Tenda Besar buat Semua

0
80
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Andai 100 tahun adalah finis, lomba kebajikan itu dimenangkan oleh Muhammadiyah. Tak berlebihan jika Carl Whiteringtonm peneliti senior asal Amerika Serikat, menyebut bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang diberkati.

Bukan hanya diberkati, Muhammadiyah juga telah banyak menginspirasi pergerakan Islam. Baik karena bersetuju atau dalam perlawanan dialektik. Inilah menariknya. Kiai Dahlan adalah seorang prakmatikus agama brilian, tapi saya bilang punya banyak pikiran nakal.

Prof Mitsuo Nakamura cukup simplifistik ketika menggambarkan dalam sebuah perumpamaan pada karya momumentalnya: Matahari Terbit di Atas Pohon Beringin: Studi tentang Pergerakan Muhamamdiyah di Kota Gedhe Sekitar 1910-2010.

Nakamura seperti hendak mengatakan bahwa inilah model pergerakan sempurna. Tak ada cacat politik, apalagi cacat moral. Dari rahim Muhammadiyah lahir berbagai pikiran maju yang terbarukan. Pikiran dan ide yang melampaui dan menerabas zaman.

Tak perlu disebut berapa jumlah amal usaha yang telah dibangun dan tak perlu pula menakar jasanya untuk negeri. Sejak awal didirikan Persyarikatan Islam ini memang spesial. Seakan sebuah antitesis dari kaumnya. Islam yang semula identik dengan jumud, kolot, beku, dan eksklusif tak mau berubah—seperti tesis Syaikh Muhammad Abduh—al Islamu mahjubun bil muslimin) diubah menjadi sebaliknya.

Kiai Dahlan identik dengan pikiran maju. Pikiran cemerlang yang melampaui. Gagasan-gagasannya ditiru dan dibenarkan ramai meski awalnya ditolak dan dibantah. Gus Dur menyebutnya kemenangan dialektik.

Muhammadiyah adalah organisasi maju—menghapus kelas dan sekat beragama. Kolektif kolegial adalah jawaban jitu untuk meredam cluster-cluster dalam beeagama semua berkesempatan sama dan inklusif terhadap partisipasi jamaah.

Sikapnya yang moderat justru memosisikan sebagai penegak amar ma’ruf dan nahi munkar yang kokoh tidak bergantung pada rezim dan kekuatan politik partisan.

Dr Alfian, Ketua LIPI, menyebutkan dalam Islamic Modernism in Indonesian Politics, the Muhammadiyah Movement during the Dutch Colonial Period 1912-1942 (1989) bahwa karena Muhammadiyah merupakan gerakan nonpolitik, keterlibatannya berbeda dengan organisasi lain yang menjadikan politik sebagai titik tuju. Tapi di situlah menjadi kelebihannya.

Kelahirannya selalu menampilkan kisah dramatis dan eksotis—ghirah juga heroik. Dan semangat berebut bajik. Seratus sebelas tahun berdiri bukan waktu yang pendek ketika organisasi sejenis malah kerdil dan tak mampu bersaing dengan perubahan. Muhammadiyah malah sebaliknya, tampil semakin seksi dan menggoda.

Bersyukur ada pergerakan Islam progresif bernama Muhammadiyah dihuni banyak orang ikhlas. Tidak kepikiran membawa pulang aset di Persyarikatan. Semua berkhidmat dalam kapal besar. Buya Syafi’ Maarif menyebutnya tenda besar buat semua. Prof Din mengilustrasikan sebagai federasi dari banyak pemikiran.

Apa pun, Muhammadiyah telah melahirkan banyak ragam karakter tak juga Soekarno yang heroik, ibu Fatmawati yang lembut tapi kokoh owndirian, Soeharto yang cerdik, Jenderal Sudirman yang tawadhu, Ki Bagus Hadikoesomo yang futuristis (eruh sak durunge winarah), dan masih banyak lagi puluhan tokoh yang tak bisa disebut satu satu.

“Makin lama makin tjinta,” kata Ir Soekarno santri nginthil Kiai Dahlan meski ada sebagian orang Muhammadiyah yang meragukan kemuhammadiyahannya. Tapi ini rumah besar, jadi tak layak sesama kader saling menilai siapa asli siapa bukan.

Rahayu, Rahayu, Rahayu (*)

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here