Saat Empat Siswa Smamda Menganyam Kisah di Global Youth Forum

0
136
Para siswa Smamda saat sedang berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan berbagi ide di Global Youth Forum. (Aisha/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Empat siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) mengikuti kegiatan Bridge Concersation Student Exhange – Victorian Young Leaders: Global Youth Forum. Acara itu berlangsung secara virtual melalui aplikasi Zoom Kamis (21/10/2021).

Keempat siswa tersebut adalah Aisha Prastyanti Hapsari X MIPA 4, Lucrecia Helene Bark X MIPA 4, Sekar Wangi Laila Noer XI MIPA 4 dan Zaky Amrul Hakim XI MIPA 4.

“Kegiatan ini merupakan pembelajaran interaktif yang dirancang untuk memperdalam pemahaman para murid tentang apa artinya menjadi warga dunia,” ungkap Mayus, staf Bridge Indonesia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan program ini memungkinkan murid-murid kelas 9 dari sekolah-sekolah di Negara Bagian Victoria, Australia, untuk berinteraksi dengan perspektif global dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk memecahkan masalah dalam situasi dunia nyata. Hal ini bertujuan membangun kemampuan mereka untuk menjadi warga global yang aktif dan terinformasi.

Mengambil tema kewarganegaraan global, identitas, dan tujuan, para siswa akan diminta untuk mengidentifikasi masalah yang berdampak pada mereka atau komunitas sekolah kemudian mengidentifikasikan hal-hal yang dapat mengatasi permasalahan tersebut.

Melalui kegiatan pada forum tersebut, para siswa akan mendengar pemaparan materi dari para ahli, mengeksplorasi dan membuat sketsa yang menangkap cerita di seluruh Asia-Pasifik, serta mengemukakan pendapat secara kritis mengenai kewarganegaraan global. Mereka juga bisa berdialog dengan teman sebaya lainnya tentang masalah yang dihadapi pendidikan dan sekolah dalam konteks global saat ini.

“Sebagai pembuka serangkaian kegiatan, para peserta menjalani kegiatan praforum,” terang Mayus.

Kegiatan ini menggabungkan lokakarya penulisan sketsa, pidato, talk show dengan mahasiswa internasional, migran generasi kedua, anggota diaspora, serta kesempatan untuk terhubung dengan para murid dari Indonesia, India, Jepang, Tiongkok dan Vietnam.

“Kegiatan ini dihadiri lebih dari 300 orang peserta sebagai perwakilan dari 30 sekolah dari negara bagian Victoria, Australia, 9 sekolah dari Cina, 5 sekolah dari Indonesia, 1 sekolah dari Vietnam dan 1 sekolah dari Jepang,” paparnya.

Dari 300 peserta tersebut, 20 murid dari Indonesia memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dan berdialog bersama siswa dari Australia. Siswa-siswi dari Indonesia merupakan perwakilan dari lima sekolah yakni SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda)-Jawa Timur, SMAN 1 Atambua- NTT, SMAN 1 Boja-Jawa tengah, SMA Muhammadiyah 1 Denpasar- Bali, SMAN 1 Boja-Jawa Tengah dan SMA Islam Dian Didaktika-Jawa Barat.

Disinggung terkait pendanaan, Mayus menjelaskan kegiatan ini didanai oleh Departemen Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah Negara Bagian Victoria Australia dan diimplementasikan oleh Asia Education Foundation di bawah Asialink, The University of Melbourne, dalam kemitraan dengan High Resolves.

Diskusi Pandemi

Pada kegiatan ini, secara bergiliran, para siswa dari Australia meminta siswa-siswi dari Indonesia untuk menggambarkan lingkungan sekolah mereka dan menceritakan pengalaman belajar mereka sebelum dan saat pandemi. Juga harapan mereka setelah pandemi usai. Dialog juga diisi dengan topik isu global yang berkaitan dengan lingkungan, perubahan iklim, dan kesehatan.

“Saya sangat senang saat Pak Agung memberi tahu saya bahwa saya terpilih untuk mengikuti program ini,” tutur Aisha saat dihubungi Klikmu.co.

“Saya langsung mengiyakan untuk segera menyiapkan berkas yang diperlukan,” sambungnya.

Ia terkenang masa lalunya ketika harus menetap selama empat tahun di Australia, tepatnya di Clayton, Melbourne, karena menemani sang ibunda mengambil S2 dan S3 Psikologi.

Ia menceritakan betapa dirinya sangat antusias mengikuti kegiatan ini walaupun awalnya Ia sangat gugup. “Saat bergabung dalam Zoom meeting pada pukul 10.20 WIB, sudah ada banyak siswa dari sekolah lain yang mengikuti kegiatan ini,” dia mengawali kisahnya.

Beberapa staf Asia Education Foundation yaitu Chris Higgins dan Brendan Hitchen menjelaskan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan. Setelah itu, ia dan Lucrecia bergabung dalam breakout room bersama siswa-siswi dari Templestowe College dan SMA dari Indonesia lainnya.

Peserta memiliki waktu kurang lebih 20 menit untuk berdiskusi. “Saya sempat bingung karena saya kira percakapan akan dimulai dengan perkenalan tetapi ternyata semuanya langsung menyampaikan pertanyaan dan berbagi pengalaman mereka,” ungkapnya, lantas tertawa.

Seorang murid Templestowe College bertanya, “Bagaimana pandemi memengaruhi kehidupan dan sekolah kita sehari-hari?” Seorang siswa dari Indonesia menjawab bahwa kita melakukan pembelajaran jarak jauh, dan harus memakai masker, menjaga jarak, dan menggunakan handsanitiser setiap kali kita keluar. Kemudian, mereka bertanya tentang jadwal kami untuk sekolah. “Sekolah mulai dari jam 7 dan berakhir pada jam 2,” tuturnya.

Lalu, seorang guru dari Templestowe College mengajukan pertanyaan, “Apakah pandemi telah memengaruhi pemahaman antar budaya secara global?” Siswa dari sekolah lain yang menjawab pertanyaan tersebut.

Kenangan Tinggal di Negeri Kanguru

Di bagian pertanyaan ini, seolah ia memutar balik memorinya. Yaitu pada saat ada siswa yang bertanya jika ada yang pernah ke Australia, maka ia menjawab bahwa dirinya pernah tinggal di Australia kurang lebih selama 4 tahun.

Lalu, siswa Templestowe College lain bertanya padanya, “Apa yang berbeda tentang Indonesia versus Australia?” dan ia menjawab terkait dengan pendidikan, bahwa ia memiliki lebih banyak mata pelajaran di sini dibandingkan dengan Australia, dan kita lebih banyak menghafal daripada menganalisis dalam mengerjakan tugas-tugas. Mereka juga bertanya mata pelajaran apa yang kita miliki, dan Ia ada 17 mata pelajaran yang dipelajari, dan siswa Indonesia lainnya mengatakan bahwa itu tergantung pada jika kita memilih IPS atau IPA.

Seorang siswa Templestowe College lalu bertanya apakah kami belajar tentang budaya Australia di sini dan seorang siswa dari SMA lain menjawab bahwa itu tergantung pada mata pelajaran apa dan topik apa yang sedang kami pelajari.

Ada juga seorang siswa bertanya apakah kita memiliki kegiatan seperti swimming carnival atau cross country (lari lintas alam) seperti di Australia dan Ia menjawab bahwa di sini berbeda dan kita tidak memiliki kegiatan seperti itu.

Diskusi semakin gayeng saja tanya jawab bersambung terus. “Bagaimana orang Indonesia menangani situasi COVID-19, apakah mereka melakukan lockdown juga dan menutup banyak toko?” tanya siswa dari Templestowe College.

Lucrecia menjawab, “Kami di-lockdown beberapa waktu yang lalu tetapi sekarang kami sudah kembali normal, sebagian besar toko sekarang dibuka dan begitu juga sekolah.”

Tak terasa waktu yang tersisa tinggal sedikit. “Kami hanya saling menanyakan pertanyaan-pertanyaan umum seperti apakah kami memiliki hewan peliharaan dan kegiatan apa yang kami lakukan di luar sekolah,” tutur Aisha.

Menjelang akhir Zoom meeting, Chris menjelaskan bahwa pada akhir bulan atau awal November adalah hari pelaksanaan forum. Saat hari forum, kami harus lebih formal, serius, dan lebih fokus dalam membahas tema yang diberikan untuk forum ini, yaitu tentang kewarganegaraan global, pemahaman antar budaya, identitas, tujuan, kepemimpinan dan pendidikan.

Diskusi juga akan lebih fokus pada pembicaraan tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya Tujuan 4: Menjamin pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil serta mendorong kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua.

Setelah meeting berakhir, mereka diminta untuk mengisi formulir untuk mengevaluasi kegiatan hari itu dan apa yang perlu dikembangkan pada aktivitas selanjutnya

“Selain nostalgia saat berada di Australia pengalaman ini sangat menyenangkan, selain menambah pengetahuan saya, saya senang bisa berbagi ide dengan siswa siswi dari negara lain,terutama Australia hanya saja waktu yang disediakan kurang lama,” pungkasnya.

Ungkapan senada juga disampaikan Sekar Wangi Laila Noer XI MIPA 4. “Menjadi salah satu dari 4 orang perwakilan Smamda Surabaya untuk VYL (Victorial Youth Leader) Global Youth Forum Bridge merupakan salah satu pengalaman paling menarik bagi saya,” ungkapnya.

Ia bersyukur bisa dipilih menjadi bagian yang mewakilkan SMAMDA di VYL bridge forum. “Saya mendapat banyak pengalaman berkomunikasi dan berdiskusi dengan murid murid SMA dari victoria, kami berdiskusi mengenai isu isu sosial, perkembangan sistem pembelajaran dari negara Indonesia dan Australia terutama di masa-masa pandemi seperti ini,” tuturnya.

Bagian yang paling menarik waktu saat ia bicara bagaimana sekolah kita merespons tentang kesehatan mental murid-muridnya terutama di masa pandemi seperti ini.

Siswa SMA dr Victoria juga menjelaskan hal hal yg sekolah mereka lakukan untuk menangani isu tersebut seperti ada nya webinar dan event tentang “mental health awareness”. Bagian tersebut menurutnya menarik karena hal tersebut memberikan persepsi2 baru tentang pandangan anak2 tersebut dan sekolah mereka mengenai kesehatan mental terutama dimasa pandemi ini.

“Berdiskusi dengan mereka membuat saya sadar bahwa pandgan mereka pada sistem Pembelajaran tidak jauh berbeda dengan kita,” katanya.

Ia juga menangkap beberapa perbedaan di negara kami masing mulai dari sistem lockdown , sistem Pembelajaran dsb.
“Pengalaman ini membuka pemikiran saya dan membantu saya melihat dari beragam persepsi, serta bertemu dengan teman-teman baru dan bisa bertukar pemikiran mengenai isu-isu sosial dan global,” paparnya.

“Sekali lagi terima kasih Smamda yang selalu mendukung perkembangan murid-muridnya secara akademik dan nonakademik dan bantu menciptakan pemikiran yang inovatif ,kritis dan kreatif,” pungkasnya. (Tanti/Aisha/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here