Sangkan Paran, Mengukur Kesalehan Orang

0
126
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Ribuan rakaat di setiap sudut Kakbah yang dikerjakan Ibrahim as pun menjadi tak berarti dibanding sedekah sesuap makan kepada si lapar.

Nabi saw pun tersenyum dan bersumpah dengan jiwanya bahwa Abdullah sahabatnya mencintai Allah dan rasulnya ketika ada sebagian sahabatnya mengumpat dan berkata kasar kepadanya, karena masih doyan mabuk dan belum bisa berhenti minum khamar, sesaat ia dihukum cambuk usai shalat Jumat.

Lantas bagaimana mengukur kesalehan? Memahami esentilal-spiritualitas tak semudah berpikir biasa, tapi butuh ketenangan jiwa, dada lapang, dan hati bening agar bisa menghadirkan keheningan. Nabi saw melakukan khalwat menyendiri di gua Hira agar lahir jiwa mutmainah.

Bukan berarti menafikan ribuan rakaat shalat di setiap sudut Kakbah, hanya hendak menanyakan, apa yang sudah kamu dapati dari ibadahmu, shalatmu, puasamu, hajimu, atau sedekahmu? Apakah amal salehmu bisa menghadirkan Tuhan? Atau sebatas ritual yang berhenti pada jumlah bacaan dan gerak.

Di sebuah ayat disebutkan bahwa orang beriman, Yahudi, Nasrani, dan Sabeen berhak masuk surga jika mereka beriman dan beramal saleh. Nabi saw juga pernah berkata kepada Abu Dzar ra sahabat karibnya bahwa siapapun yang mengucap Lailaha illallah bakal masuk surga meski ia mencuri dan berzina.

Menyandingkan esential-spiritualitas dengan syariat bukan perkara mudah, bahkan keduanya kerap saling menafikan. Bagaimana mungkin Yahudi, Nasrani, dan Sabeen masuk surga, bagaimana pula pezina dan pencuri berbekal mengucap kalimat tauhid juga demikian? Untuk memahami yang demikian harus mengenal Allah tabaraka wataala yang Maha Wenang dan Maha Welas dalam satu kesatuan. Bukan wenang hamba untuk memasukkan seseorang ke dalam surga atau neraka.

Mengenal diri adalah kunci mengenal Tuhan. Bukankah Tuhan telah menetapkan sebagian sifat-Nya dalam bentuk yang lebih humanis dalam diri makhluk paling sempurna ini. Sangkan paran adalah konsep mengenal diri dan Tuhan dalam satu kesatuan utuh.

Memahami esential-spiritualitas bukan lagi soal logika halal dan haram, tapi lebih pada kemampuan memberi makna atas sesuatu, sebagaimana Musa as saat berguru kepada ahli hikmah Khidr as. Jadi ini bukan soal melegalkan khamar, tapi perlakuan terhadap sahabat yang sedang khilaf—juga bukan menghalalkan mencuri apalagi berzina, tapi lebih pada keagungan kalimat tauhid atas semua amal. Bahwa pemahaman tentang ‘alam kasunyatan dan ‘sangkan paran ing dumadi’ adalah pemahaman tentang yang fana dan yang baqa dalam satu kemasan yng tidak terpisah. Keduanya manunggal dalam kesatuan ihwal.

Yang telah berada dalam pemahaman hakikat ‘kasunyatan’ ini, maka baginya tak ada lagi di batas ruang dan waktu sebab keduanya tak lagi terpisah. Shalat adalah mi’radznya orang mu’min—(ashalaatu mi’radz ul mu’minin. Ia telah mengenal dirinya dan mengenal Rabbnya lewat sifat-sifat ilahiah yang ada dalam dirinya. Yaitu tentang ‘bait-Allah’ yang kokoh berdiri dalam hatinya.

Konsep ‘subha-ni’ maha suci aku tidak bisa dipahami leterlek, apalagi dengan nalar cekak— aku memuji-Nya seperti Dia memujiku. Adalah bagian-bagian spiritualitas yang hanya bisa dicandra lewat pengalaman batin yang sangat personal. Bukankah menjadi hak setiap hamba untuk mengenal Rabbnya sebagai mana prasangkanya. Maka Allah pun mengingatkan dalam sebuah hadits Qudsi yang populer: ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku, maka jangan sekali-sekali kalian mati sebelum berprasangka baik kepada-Ku’. Wallahu taala a’lam.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here