Santri Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep Belajar Menulis Cerpen dari Ahlinya

0
217
Baiq Cynthia saat mengajari menulis cerpen santri Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep. (Mul/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Jumat malam (10/9/2021) 25 santri Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep mendapatkan asupan ilmu bergizi. Mereka diajari menulis cerpen oleh Baiq Cynthia, seorang penulis, content writer, dan entrepreneur muda. Baiq mengajari santri hal menulis cerpen melalui platform Zoom.

Penulis asal Situbondo itu mengatakan, cerita pendek atau cerpen lebih mengarah ke karya sastra. Sehingga cerpen menonjolkan seni daripada mengemukakan fakta terang-terangan seperti artikel.

“Namanya seni, maka tergantung penulis bebas untuk mengungkapkan apa pun, namun dalam batas-batas yang wajar,” terangnya.

Baiq melanjutkan, cerpen itu dari ide, bisa muncul dari apa saja, kapan saja, dan keadaan apa saja sesuka penulisnya. Kemudian ditulis, tegantung mau bikin cerpen pendek yang di bawah 1.000 kata atau pakai yang dijadikan buku (antologi) yang standar 1.000 kata.

“Cara menulis cerpen pertama kali kita harus merekam objek. Objek apa yang kita lihat mulai dari kita mengamati apa yang ada di sekitar, kemudian deskripsikan dan baru mulai menulis ide-ide apa yang muncul dalam benak,” kata perempuan yang berulang tahun setiap 30 Juli itu.

Baiq menjelaskan, dalam cerpen wajib ada opening. Opening cerita pendek bikin yang menarik. Biasanya bercerita tentang tokoh itu sendiri di awal atau boleh juga membuat konflik di awal.

“Intinya dalam cerpen ada pesan apa yang ingin disampaikan penulis. Adik-adik dalam menulis cerpen pasti itu ada pesan yang tersirat atau tersurat. Untuk pesan yang tersirat gitu bisa disisipkan di akhir menjelang penyelesaian cerita sendiri,” terang penulis novel September Wish itu.

Dia mengatakan, dalam cerpen penokohannya hanya dua sampai tiga orang, namun umumnya bebas tidak ada ketentuan terikat. Dalam cerpen konfliknya itu hanya satu, tidak seperti novel yang bermacam-macam konflik dari cerita awal hingga akhir.

“Cerpen biasanya berkisah tentang apa yang penulis amati, maka jadilah sebuah karya sastra. Cerpen-cerpen yang biasanya terbit di media itu adalah didasari konsep ide yang beda dari biasanya. Resah jadilah sebuah cerita, biasanya,” jelas Baiq.

Di akhir sesi, ibu satu anak itu mengatakan, menulis yang baik bukan soal struktur tulisannya. Tapi soal seberapa banyak asupan bacaan yang dilahap penulis.

“Apapun dibaca, itu memperkaya dan menambah wawasan kita. Selain asupan, kita latihan terus. Kalau mau jadi penulis setiap hari, wajib menulis minimal satu halaman kertas apapun yang ditulis tiap hari. Seiring berjalannya waktu tulisan itu akan jadi buku,” pungkasnya.

Sementara itu, pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep Ahmad Riadi pada sambutan acara mengatakan, para santri harus bersemangat belajar menulis untuk dijadikan sebuah buku antologi bersama.

“Ambil pelajaran yang baik. Kita betul-betul serius untuk mendengarkannya ilmu dari pemateri. Saya ucapan terima kasih atas kesediaan mbak Baiq untuk mengajari anak-anak atau adik-adik kita yang ada di Panti Asuhan Muhammadiyah ini Semoga Allah membalas kebaikan Mbak dengan kebaikan pula,” tuturnya. (Mul/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here