Siswa SD Kreatif Belajar Virtual Pembuatan Gerabah dari Lamongan

0
385
Pak Sodiq, salah seorang perajin gerabah, menjelaskan pembuatan gerabah kepada siswa SD Kreatif. (Rudi Ircham/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Selasa kemarin (9/2/2021) menjadi waktu yang menyenangkan bagi siswa kelas 5 Calisto, Oberon, dan Triton Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya. Mereka mengikuti pembelajaran langsung bertema “Pengaruh Kalor terhadap Perubahan Benda”.

Kali ini kegiatan outdoor virtual “Jejak Si Gembul part 2” mengunjungi pembuatan gerabah di Desa Gampang Laren, Lamongan. Aisyah Refany Seputro serta Airil Wanto Lanege, siswa kelas 5 ini, tampak antusias dan harap-harap cemas setelah web spider diberikan oleh ustadz dan ustadzah.

“Ustadz, gerabah itu apa bentuknya?” begitu tanya Airil Wanto, salah satu siswa kelas 5 Calisto. Begitu banyak bayangan dan pertanyaan yang mereka simpan sebelum TV Kreatif 20  menayangkan secara live melalui media zoom untuk kegiatan outdoor virtual ini.

Salah satu pemandu lapangan yang tak lain Si Gembul atau Ustadz Rudi Ircham, S.Si memandu kegiatan interaktif ini mulai awal hingga akhir. Tempat pembuatan gerabah di Desa Gampang Kecamatan Laren Lamongan ini dipilih sebagai tempat tujuan outdoor virtual bagi siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya karena sesuai dengan tema pertama di semester genap tahun ajaran 2020–2021 tersebut.

Bu Rohmatun dan Pak Sodiq, kedua narasumber, merupakan perajin gerabah yang telah lama menggeluti pembuatan gerabah. Sodiq menjelaskan awal mula kegiatan pembuatan gerabah. Mulai bahan yang digunakan untuk pembuatan gerabah, yaitu tanah liat dan pasir.

“Untuk pencampuran bahan 1:1 tanah liat dan pasir. Bahan tersebut diambil dari sekitar daerah, yaitu pesisir Sungai Bengawan Solo,” ujarnya.

Beranjak pada kegiatan berikutnya, Sidiq menjelaskan proses pembuatan gerabah dengan alat “terbot” yang berbentuk piringan dari kayu berputar untuk mencetak atau membuat gerabah. Lalu, dengan cekatan Rohmatun memutar terbot serta membentuk cobek dengan waktu tak begitu lama. Setelah itu dijemur selama 3 hingga 4 jam. Namun, jika musim hujan bisa dijemur hingga berhari-hari.

“Proses berikutnya adalah pewarnaan cobek. Pewarna yang digunakan berasal dari tanah merah yang dicampur dengan air. Tanah merah ini diambil dari daerah Bluru, Lamongan,” katanya.

Setelah pewarnaan, selanjutnya adalah penjemuran untuk kali kedua. Setelah kering, cobek tersebut dihaluskan dengan menggunakan batu khusus untuk menghilangkan bekas gumpalan tanah merah yang masih menempel di permukaan cobek.

Berikutnya adalah pembakaran dengan menggunakan ranting pahon kering, jerami, dan abu. Pembakaran ini berguna untuk menguatkan gerabah. Pembakaran ini dilakukan dua hari berturut-turut dengan durasi waktu pembakaran 1 jam.

(Rudi Ircham/Klikmu.co)

“Setelah proses pembakaran selesai, gerabah tersebut siap untuk dipasarkan,” jelasnya.

Rohmatun menambahkan, pemasaran gerabah ini mungkin masih tergolong konvensional. Para pembeli maupun distributor memesan by phone dan barang siap dikirim ke tempat asal. Meski begitu, gerabah mereka mampu dipasarkan hingga luar pulau, seperti Kalimantan dan Sumatera, bahkan hingga sampai ke negeri jiran Malaysia.

“Bagaimana strategi pemasaran saat ini jika berkompetisi dengan barang-barang elektronik yang lebih canggih?” tanya Cinta Bethari, seorang siswa.

“Kita berinovasi lagi dengan pembuatan gerabah yang memiliki manfaat lebih bagi kebutuhan rumah tangga serta penjualan dengan menggunakan online market,” begitu jawaban Pak Sodiq. (Rudi Ircham/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here