Suka Duka Puasa Ramadhan di Taiwan

0
128
Adjar Yusrandi Akbar. (Foto pribadi/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Menjalankan ibadah puasa di negara lain, apalagi di tengah pandemi, menjadi pengalaman tersendiri. Utamanya bagi minoritas di negara orang. Banyak hal yang biasanya mudah dijumpai di tanah air, namun berubah menjadi sangat sulit ditemukan.

Hal itu juga yang dialami oleh mahasiswa Magister Asia University Taiwan, Adjar Yusrandi Akbar. Adjar menceritakan bahwa tahun ini salat tarawih sudah boleh dilaksanakan di Taiwan, mengingat tahun lalu pandemi masih melanda.

Selain itu, ia patut bersyukur karena tak perlu lagi melakukan perjalanan sejauh sepuluh kilometer untuk menjumpai masjid. Pasalnya, komunitas mahasiswa muslim di Asia University berhasil melobi kebijakan kampus untuk menyediakan tempat ibadah khusus bagi umat muslim.

“Akhirnya salat tarawih diperbolehkan lagi setelah tahun lalu benar-benar dilarang. Kami juga sudah punya tempat ibadah sendiri. Sayangnya, aku masih belum boleh ikut karena masih berada di masa isolasi,” cerita alumnus program studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Walaupun ia dan kawan-kawannya telah mendapatkan kemudahan dalam mengakses tempat beribadah, Adjar yang tergabung di perkumpulan mahasiswa Asia University Muslim menceritakan bahwa mereka tetap mengalami kendala. Salah satunya kesulitan mencari makanan halal.

“Tempat kami kan berada di distrik pinggiran, bukan pusat. Jadi lebih sulit cari makanan yang sesuai untuk kami yang notabene warga muslim,” terangnya.

Bagi Adjar, puasa pertamanya di Taiwan saat ini tidak begitu berat. Selain karena saat ini sedang musim semi, pemerintah Taiwan sudah memperbolehkan kegiatan berkumpul.

“Puasa di sini rasanya tidak begitu berat, sama seperti di Indonesia. Sama-sama 13 jam. Terus, di sini juga sudah boleh berkumpul walaupun masih harus pakai masker,” kisah Adjar.

Adjar mengaku tidak bisa menghindari homesick karena harus jauh dari keluarganya. Namun, keberadaan komunitas mahasiswa muslim di Asia University sedikit banyak dapat menjadi pelipurnya untuk tetap menjalani aktivitas perkuliahan.

“Homesick pasti masih ada ya, walaupun saat di UMM juga merantau. Tapi teman-teman muslim di sini sangat baik dan ramah. Jadi tidak merasa terlalu kesepian,” pungkasnya. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here