Tahun Baru, Bukan Sesuatu yang Istimewa

0
79
Ace Somantri, dosen Universitas Muhammadiyah Bandung (Dok pribadi)

Oleh: Ace Somantri

KLIKMU.CO

Ada tradisi dan budaya masyarakat Indonesia, entah kapan hal itu diinisiasi dan dimulai. Kala berakhir tahun baru Masehi selalu dijadikan momentum hari yang dikesankan istimewa, bahkan bagi pemeluk agama tertentu malah menjadi sesuatu yang sakral.

Banyak pendapat dari prespektif historis, yang dikaitkan dengan kelahiran Isa alaihi salam. Terlepas salah dan benar, dalam konteks budaya kekinian masih menekankan tradisi yang keluar dari nilai-nilai moralitas keadaban beragama, terlebih ajaran Islam.

Yang sangat memprihatinkan bagi umat Islam keumuman kala menjelang pergantian tahun Masehi sering larut dalam ekpresi entertainment yang melanggar kaidah-kaidah agama. Pembudayaan dan tradisi yang dibiasakan kadang membuat umat Islam larut dalam kesenangan sesaat yang hedonistik, lupa hal-hal yang melanggar moral. Bahkan tidak sedikit generasi muda muslim yang salah kaprah memanfaatkan saat liburan akhir tahun Masehi yang mengakibatkan perbuatannya membuat hancur masa depan hanya karena terlena sesaat.

Tahun baru Masehi bukan hal istimewa dalam ajaran Islam, apalagi sesuatu yang sakral. Apabila disakralkan sangat mungkin menjadi bagian dari perbuatan bidah buruk dan mendekatkan diri pada  kesyirikan. Bagi umat Islam, tahun baru Masehi sama halnya pergantian waktu dari detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan juga tahun.

Keistimewaan pada dasarnya lebih kepada sejauh mana umat Islam mengisi waktu dengan hal baik, meningkatkan produktivitas dan kualitas mengisi waktu itu sesuatu yang bernilai, bukan hanya bersua terbahak-bahak menikmati bakar-bakar jagung disertai minuman yang memabukkan juga makanan lain sejenisnya tanpa ada sesuatu nilai yang bermakna. Tidak ada larangan menikmati lburan tahun baru, hanya sedikit evaluasi dan introspeksi diri. Kadang faktanya masih terjadi mengekspresikan pergantian tahun baru Masehi terlalu berlebihan, seolah sesuatu yang istimewa.

Pemaknaan ganti tahun Masehi dianjurkan menjadi spirit kebaikan, mengevaluasi dan introspeksi diri, merancang ulang untuk mengubah kebiasaan buruk untuk berusaha memperbaikinya. Dan juga menata kembali rencana cita-cita yang sempat kandas dan gagal serta meningkatkan produktivitas karya. Pergantian tahun menjadi stimulus untuk mengingatkan, tidak sedikit pekerjaan dan beban yang menjadi kewajiban yang harus dituntaskan namun tertunda, segera untuk diselesaikan, bukannya malah bertambah beban kewajibannya.

Manfaatkan libur akhir tahun bersama keluarga tercinta membangun rasa cinta dan kasih sayang penuh makna. Ketika sedikit bosan bersama keluarga di rumah, tidak dilarang untuk menikmati alam terbuka bersama anggota keluarga, berkumpul bersama ayah, bunda, kakak, dan adik. Sedikit bercengkerama di alam bebas sambil tadabur, tafakur, dan tasyakur atas limpahan kebahagian yang diberikan Allah SWT.

Di balik semua fenomena hiruk pikuk pergantian tahun baru Masehi, tebersit lontaran pertanyaan terungkap dalam ucapan, “Kenapa setiap menjelang pergantian tahun baru Masehi selalu diiringi hujan?” Pertanyaan konyol tersebut masih belum terpuaskan karena yang memberi jawaban baru sebatas kira-kira karena dalam posisi musim hujan bukan pendekatan saintifik yang meyakinkan nalar intelektual. Bahkan lucunya, konon kabarnya menurut keyakinan tertentu apabila hujan terus-menerus menjelang pergantian tahun baru sesuatu keuntungan dan keberkahan, itu pun jawaban masih teologis yang perlu diuji kebenaran logic thinking-nya.

Bicara keberkahan atau simbol agama bukan menjadi alat untuk pembenaran dan melegitimasi. Namun, ketika dialami banyak dirasakan pada momentum pergantian tahun Masehi lebih pada mengikuti keumuman orang banyak, tanpa ada alasan rasional dan objektif. Yang penting saat ada kesempatan libur, berbagai aktivitas dimanfaatkan untuk istirahat dan kegiatan lain bersama keluarga.

Merayakan atau memperingati pergantian tahun baru dari berbagai perspektif tergantung niat, tujuan, dan prosesnya. Manakala keluar dari kaidah-kaidah norma agama, hukum, sosial dan pranata lainnya, hal tersebut dapat dihukumi tidak boleh dan dilarang, selain akan membuat mudarat pada diri sendiri sangat memungkinkan dapat memudaratkan kepada orang lain dan merusak tatanan hubungan antarmanusia yang tidak harmonis.

Saat liburan tahun baru, ketika hanya memanfaatkan dan menikmati waktu kosong, kemudian dianggap memperingati itu tuduhan konyol juga. Perdebatannya, bukan diperingati atau dirayakan tahun baru, melainkan sejauh mana memaknai dan mempergunamanfaatkan waktu lebih baik dan berkualitas. Bukan sebatas bakar-bakar jagung dan ikan terus bergadang hingga meninggalkan kewajiban pokok sebagai umat Islam.

Tahun baru menjadi napas baru untuk menggali berbagai varian khazanah ilmu yang dianggap baru. Bisa jadi bagi kita hal itu baru, sementara bagi orang lain sesuatu yang bukan baru. Namun, minimal untuk diri sendiri menyadari bahwa sebenarnya tidak ada yang baru dalam ilmu, hanya mengungkap fakta dan data untuk pengembangan ilmu yang sudah ada.

Sebenarnya tahun itu hanya media untuk mengukur sejauh mana produktivitas karya, bukan mengukur usia kuantitas angka manusia. Fungsinya lebih kepada mengukur kualitas bersikap, berperilaku, berpikir, dan berkarya. Hakikatnya sama tahun sebelumnya dengan tahun yang akan datang, relatif tidak ada perubahan benda-benda pokok alam semesta. Dari dulu hingga saat ini, matahari, bulan, bintang, dan planet lainnya tidak ada yang berubah walaupun berganti tahun. Pun sama yang meninggali dan mengisi alam semesta dalam ruang dan waktu dari dulu hanya manusia, hewan dan mahluk lain yang masih bertahan hidup.

Yang membedakan justru sejauhmana manusia mampu mengambil manfaat dan bernilai guna dari semua hal ihwal isi alam semesta untuk kepentingan pragmatus duniawiyah dan strategis keberlangsungan hidup manusia tanpa merusak makhluk lainnya. Tahun baru hanya sebuah ruang dan waktu yang tidak ada bedanya dengan tahun lama sebelumnya, sehingga tidak mesti menganggap pergantian tahun baru menjadi sesuatu yang istimewa. Yang istimewa adalah manusia yang tidak berhenti berkarya dalam setiap ruang dan waktu. Wallahu’alam. (*)

Bandung, 31 Desember 2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini