13 Februari 2026
Surabaya, Indonesia
Opini

Takut Amal Ditolak Bukan Tanda Lemahnya Iman

Takut Amal Ditolak Bukan Tanda Lemahnya Iman (Ilustrasi AI)

Oleh: Dwi Taufan Hidayat
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PCM Bergas, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kab Semarang

Seorang mukmin sejati tidak pernah merasa aman dengan amalnya. Ia beribadah dengan sungguh-sungguh, namun hatinya diliputi rasa takut bila amal itu tertolak. Ketakutan ini bukan tanda lemahnya iman, melainkan bukti kedalaman makrifat kepada Allah. Ia sadar bahwa amal hanyalah karunia, bukan prestasi, dan keselamatan hanya datang dari rahmat-Nya.

Takut amal tidak diterima adalah maqam hati yang tinggi dalam perjalanan ruhani seorang mukmin. Ia beramal, tetapi tidak menggantungkan harapan pada amal itu sendiri. Ia taat, namun tidak merasa suci. Rasa takut ini lahir dari kesadaran akan keagungan Allah dan keterbatasan manusia. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS Al-Mu’minun 60).

Ayat ini menggambarkan orang beriman yang tetap takut meski telah banyak beramal. Fokus mereka bukan kuantitas amal, melainkan penerimaan Allah.

Menjaga Hati dari Ujub

Rasa takut ini menyingkirkan penyakit ujub, yaitu kekaguman berlebihan pada diri sendiri hingga merasa amalnya besar dan meremehkan orang lain. Rasulullah telah memperingatkan bahaya ini. Dalam sebuah hadis disebutkan:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang kagum terhadap dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani).

Takut amal tidak diterima membuat seorang hamba lebih curiga pada keikhlasan dirinya daripada sibuk menilai amal orang lain.

Para sahabat Rasulullah adalah generasi paling saleh, namun merekalah yang paling takut amalnya tertolak. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata, “Perhatikanlah diterimanya amal lebih daripada memperbanyak amal.” Hal ini sejalan dengan firman Allah:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Ma’idah 27).

Ayat ini menegaskan bahwa kualitas takwa dan keikhlasan adalah kunci diterimanya amal, bukan sekadar tampilan lahiriah.

Seimbang antara Takut dan Harap

Takut amal tidak diterima juga menjaga keseimbangan antara khauf dan raja’, antara takut dan harap. Seorang mukmin takut karena dosanya, namun tetap berharap pada rahmat Allah. Rasulullah bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ، مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ، مَا قَنَطَ مِنْ رَحْمَتِهِ أَحَدٌ
“Seandainya seorang mukmin mengetahui siksa di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berharap masuk surga karena amalnya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya.” (HR Muslim).

Hadis ini mengajarkan kerendahan hati sekaligus optimisme spiritual.

Ketakutan yang benar bukan membuat seseorang malas beramal, justru mendorongnya untuk terus memperbaiki niat, memperhalus adab, dan menguatkan keikhlasan. Ia tidak sibuk menghitung amal, tetapi sibuk memohon penerimaan.

Doa para salihin adalah cermin sikap ini, sebagaimana doa Nabi Ibrahim dan Ismail عليهما السلام:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah 127).

Padahal amal mereka adalah membangun Ka’bah, sebuah amal agung yang sangat mulia.

Pada akhirnya, takut amal tidak diterima adalah penjaga hati agar tetap hidup, lembut, dan tunduk. Ia melahirkan tawadhu, menumbuhkan keikhlasan, dan mematangkan rasa butuh kepada Allah. Seorang mukmin berjalan menuju Rabb-nya dengan amal di tangan, rasa takut di dada, dan harap besar pada rahmat-Nya. Inilah jalan selamat, jalan orang-orang yang mengenal Tuhannya dengan sebenar-benarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *