Tantangan Islam Berkemajuan di Abad Kedua

0
89
Bendera Muhammadiyah. (Ilustrasi istimewa)

Oleh: Ana Ahsanul Huda

Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang

KLIKMU.CO

Muhammadiyah seringkali mengenalkan dirinya sebagai gerakan Islam berkemajuan, bahkan sejak awal berdirinya KH Ahmad Dahlan menyebut watak Islam adalah agama berkemajuan. Pikiran Kiai Dahlan tersebut tentunya tidak terlepas dari perjumpaan beliau dengan ketiga gurunya seperti Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Ketiganya merupakan pelopor gerakan pembaharuan Islam di Mesir abad ke-19.

Singkatnya, Islam Berkemajuan yang dicita-citakan oleh Kiai Dahlan ialah Islam yang senantiasa senafas dengan semangat perkembangan zaman.
Istilah “Islam Berkemajuan” yang menjadi ciri khas Muhammadiyah di fase-fase awal tidak begitu populer sepeninggal Kiai Dahlan.

Bahkan Ahmad Najib Burhani (2016) menyebut tagline “Islam Berkemajuan” kembali familiar di kalangan Muhammadiyah sejak terbitnya buku dengan judul Islam Berkemajuan: Kiai Ahmad Dahlan dalam Catatan Pribadi Kiai Syuja (2009).

Pasca itu, tema-tema Muktamar Muhammadiyah selalu identik dengan slogan “berkemajuan”. Slogan “Islam Berkemajuan” lambat laun kian melekat untuk menggambarkan karakter, corak serta watak keagamaan organisasi berlambang matahari ini.
Gerakan “Islam Berkemajuan” yang didengungkan Muhammadiyah pada awalnya adalah sebagai bentuk respon atas globalisasi yang muncul dalam pergumulan peradaban.

Situasi zaman memaksa Muhammadiyah untuk mengejawantahkan visi berkemajuannya dalam praksis gerakan nyata. Meminjam Istilah Din Syamsuddin (2015), berkemajuan menyiratkan adanya keberlangsungan, dan bahkan perkembangan, sebagai usaha yang terus-menerus untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang bermakna (sustainable development with meaning).

Alhasil, gerakan “Islam Berkemajuan” yang dibawa Muhammadiyah di abad pertama terbukti cukup berhasil. Hal ini dibuktikan Muhammadiyah melalui praksis gerakannya dalam menjawab tantangan keummatan, kemanusiaan dan kebangsaan. Seperti upayanya dengan mendirikan Lembaga pendidikan, rumah sakit, panti asuhan dan berbagai amal usaha lainnya.

Berbagai amal usaha yang didirikan tersebut tidak terlepas dari peran KH Ahmad Dahlan yang mampu mengontekstualisasikan ajaran Islam dengan semangat kemajuan zaman. Kiprah Muhammadiyah tersebut lantas meyulut perhatian para peneliti gerakan sosial keagamaan outsider seperti Mitsuo Nakamura (1993), Benda (1980) dan Peacock (1978). Mereka rela menghabiskan waktunya bertahun-tahun untuk mengkaji dan meneliti Muhammadiyah.

Hal ini disebabkan karena mereka begitu takjub melihat besarnya amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga panti asuhan. Bahkan dengan agak berlebihan, mereka kerap menyebut Muhammadiyah merupakan organisasi swasta keagamaan terbesar di muka bumi ini.

Tantangan Baru Muhammadiyah

Visi “Islam Berkemajuan” yang melekat dalam diri Muhammadiyah kian mendapat tantangan yang semakin kompleks. Perubahan zaman yang begitu dinamis mengharuskan Muhammadiyah merefleksikan dan mengontekstualisasikan kembali gerakannya.

Memang dapat dikatakan Gerakan “Islam Berkemajuan” Muhammadiyah di abad pertama masih relevan dengan konteks zaman pada saat itu. Akan tetapi memasuki abad kedua ini, tentunya bukanlah hal yang mudah bagi
Muhammadiyah untuk menerjemahkan kembali visi berkemajuannya. Era globalisasi pada saat Muhammadiyah berusia satu abad tentu berbeda dengan era sekarang yang sudah mengalami proses elaborasi panjang.

Thomas L Friedman dalam bukunya The World is Flat (2006) membagi globalisasi menjadi tiga tahapan, pertama globalisasi 1.0, kedua globalisasi 2.0, dan ketiga globalisasi 3.0. Ketiga tahapan tersebut oleh Friedman didasarkan pada jenis teknologi apa yang memengaruhi dan menggerakkan kehidupan manusia pada masa itu.

Kini Muhammadiyah dihadapkan dengan babak baru globalisasi yang memunculkan era revolusi industri 4.0 atau sering disebut sebagai revolusi digital. Lebih lanjut Zhou dkk (2015) mejelaskan, secara umum ada lima tantangan besar yang akan dihadapi yaitu aspek pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, dan politik.

Sejauh ini apakah gerakan “Islam Berkemajuan” ala Muhammadiyah telah menjawab lima tantangan besar tersebut, utamanya dalam bidang pendidikan?

Respons Muhammadiyah

Sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, pemerintah melalui Mendikbudristek mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19).

Tepat pada tanggal 24 Maret 2020, Indonesia secara serempak mulai melaksanakan pendidikan jarak jauh dalam jaringan (daring) mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Mulai saat itu wajah pendidikan kita berubah total hingga dipaksa untuk beradaptasi dengan era normal baru (new normal).

Bisa dilihat bahwa tidak sedikit dari para tenaga pendidik yang kuwalahan dalam beradaptasi di era new normal. Hal ini sangat wajar karena sebagian besar guru-guru dan dosen kita merupakan digital immigrant, yakni semasa ia lahir, internet belum beredar ke permukaan.

Bagi pendidik yang memang merupakan digital native, adanya pembelajaran online tak menjadi sebuah masalah besar. Menariknya, sebelum pandemi Covid-19 melanda tanah air, di tahun 2019 Muhammadiyah telah menginisiasi pendirian Universitas Cyber Muhammadiyah (UCM).

Dilansir dari laman resmi umc.ac.id, Universitas Cyber Muhammadiyah merupakan sebuah portal sistem informasi yang mewadahi institusi pendidikan Muhammadiyah dalam menyediakan sistem pembelajaran secara online.

Melalui pemanfaataan aplikasi OpenLearning, nantinya institusi dapat mengelola secara mandiri serta memungkinkan sivitas akademik lebih fokus, terstruktur, dan termanajemen dengan baik selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilaksanakan secara daring.

Melansir dari laman resmi ums.ac.id, Tujuan utama didirikan Universitas Cyber Muhammadiyah adalah: (1) Mewujudkan dakwah Muhammadiyah yang modern dan berkemajuan (2) Terlaksananya proses pendidikan tinggi dengan layanan pendidikan jarak jauh berbasis online masyarakat pada level nasional dan internasional.(3) Memberikan layanan pembelajaran campuran (blended learning), kepada perguruan tinggi lain.

Kelebihan dengan adanya Universitas Cyber Muhammadiyah, perguruan tinggi Muhammadiyah dapat menyelenggarakan pembelajaran online yang berkualitas. Catatan pentingnya, hal inilah yang tidak banyak dimiliki institusi lain di luar Muhammadiyah. Dalam memasuki tantangan pendidikan hari ini dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah selangkah lebih siap dan lebih maju.

Memasuki awal abad kedua, secara tidak langsung wujud nyata dalam aspek pendidikan telah diwujudkan Muhammadiyah melalui pendirian Universitas Cyber Muhammadiyah (UCM) sebagai respon pendidikan di era New Normal. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here