Tiga Bukti Ketakwaan Menurut Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim

0
30
Ustadz Abdul Basith Lc MPdI mengisi Pengajian Sakinah Majelis Tabligh PCM Krembangan. (Fikri/KLIKMU.CO)

Surabaya, KLIKMU.CO – “Tiga Hal sebagai Bukti Ketakwaan” menjadi tema Pengajian Sakinah Majelis Tabligh PCM Krembangan pada Ahad (6/8) ini. Agenda tersebut dilaksanakan di Musala Al Hadi, Lasem Barat 43. Mubalig pada kajian itu adalah Ustadz Abdul Basith Lc MPdI.

Acara dimulai dengan pembukaan, pembacaan Al-Qur’an surah Ali Imron ayat ke-102 sampai 104, dan sambutan Ketua PCM Krembangan Akhwan Hamid SPd MPdI. Dalam sambutannya, Akhwan menyampaikan pentingnya tepat waktu dan upacara peringatan Hari Kemerdekaan.

Sebelum menyampaikan tiga bukti ketakwaan, Ustadz Basith menyampaikan bahwa kunci agar nikmat ditambah oleh Allah adalah bersyukur. Masalah apa pun diterima dengan lapang dada.

“Kalau ada masalah, harus membangun relasi terutama kepada Allah,” tambahnya.

Setelah itu, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur itu memaparkan tiga bukti ketakwaan. Pertama, merasa berdosa dan segera bertaubat. Kedua, tidak menyimpang dari ketentuan Allah. Ketiga, melakukan hal-hal baik karena takwa dan takut kepada Allah.

Orang yang bijaksana adalah orang yang ketika berdosa, segera bertaubat. Allah menyukai hamba-Nya yang segera bertaubat ketika bersalah. Dalam surah Ali Imran ayat ke-133 Allah berfirman yang artinya: “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda yang artinya: “Siapa yang memperbanyak istighfar maka Allah akan menjadikan untuknya kelapangan dari setiap kegundahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan Dia memberikan rezeki untuknya dari jalan yang tidak terduga.”

Dengan begitu, istigfar dan usaha merupakan solusi efektif ketika mengalami kesulitan. Hati pun menjadi lunak bila seseorang sering beristigfar. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah yang tidak berdosa dan dijamin masuk surga, setiap harinya beristigfar 100 kali.

Ciri kedua adalah tidak menyimpang dari ketentuan Allah. “Menjaga takwa di masjid itu mudah. Kalau di luar, tentu lebih susah,” paparnya.

Lalu Ustadz Basith menceritakan dua kisah. Kisah pertama tentang seorang penggembala yang jujur di hadapan Abdullah ibnu Umar. Penggembala itu menjaga kambing-kambingnya meskipun majikannya tidak akan tahu misal kambingnya berkurang satu. Penggembala tersebut memiliki rasa takut kepada Allah. Kisah kedua tentang seorang anak yang jujur, tidak mau mencampur susu dengan air untuk dijual. Kisah itu terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab.

Jujur memanglah sulit. Kadang keyakinan melemah. Tapi, umat Islam harus yakin bahwa kejujuran akan dibalas kebaikan. Di dalam keluarga pun harus ditumbuhkan sifat jujur.

Ciri ketiga adalah melakukan hal-hal baik karena takwa dan takut kepada Allah. Amal sosial juga harus dilakukan secara murni, bukan karena ada kepentingan tertentu yang sifatnya buruk.

Dalam surah Al-insan ayat ke-8 dan 9 tergambar bagaimana penerapan hal tersebut. Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan, sambil berkata, “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”

Pada akhir kajian, Ustadz Basith menyampaikan dua pesan. Pertama, jangan sampai pahala amal ibadah habis karena melakukan interaksi sosial yang salah. Kedua, jangan menyia-nyiakan harta. Harta tidak dibawa sampai meninggal.

“Harta yang sesungguhnya adalah harta yang dititipkan ke keluarga berupa nafkah dan dititipkan ke orang yang membutuhkan berupa sedekah atau zakat,” tandasnya. (Fikri/AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini