Tiga Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan

0
13
Para peserta pelatihan Pelatihan LOVE (Living Our Values Everyday) Maarif Institute yang diadakan di Lamongan. (Dok Maarif Institute)

Lamongan, KLIKMU.CO – Maarif Institute kembali menyelenggarakan Pelatihan LOVE (Living Our Values Everyday). Acara bertajuk Penguatan Nilai-Nilai Inklusi Sosial Keagamaan untuk Guru-Guru Pendidikan Agama itu dilaksanakan di Tanjung Kodok Beach Resort, Lamongan, selama tiga hari mulai Rabu (13/9) sampai Jumat (15/9).

Kegiatan ini melibatkan 20 peserta guru agama di lembaga sekolah menengah atas (SMA/MA) dan kejuruan (SMK) dengan klasifikasi lintas agama dan lintas organisasi keagamaan. Meliputi  Muhammadiyah, NU, penghayat kepercayaan, Kristen Katolik, dan Protestan.

Direktur Maarif Institute Abd. Rohim Ghazali menyatakan bahwa pelatihan ini dilaksanakan bukan tanpa alasan mendasar dan disertai riset panjang. Pelatihan ini di samping menjadi wujud dari gagasan Buya Syafii Maarif tentang kemanusiaan, integritas, dan keterbukaan, juga mencoba membuka cakrawala berpikir yang bisa menerima perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai ancaman.

“Manusia saling memusuhi karena ketidakpahaman dan ketidaktahuan. Diperlukan strategi dan pendekatan yang memanusiakan manusia, karena pada hakikatnya mereka beragam latar belakang suku, budaya, bahasa, dan agama. Pelatihan ini diharapkan bisa memberikan perspektif baru dan arah baru dalam memperkuat nilai-nilai inklusi sosial keagamaan,” ujarnya saat membuka acara.

Dosa Besar Dunia Pendidikan

Direktur Program Maarif Institute Moh. Shofan menambahkan, ada tiga dosa besar dalam pendidikan, yakni intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan/bullying. Ketiganya bisa merusak tatanan nilai moral kemanusiaan. Kerena itu, pendekatan inklusif diharapkan mampu mengikis tiga dosa besar itu.

“Pendidikan adalah investasi kemanusiaan yang memberikan ruang-ruang keterbukaan dalam aspek afektif, moralitas, spiritualitas, dan sensitivitas. Sehingga ukurannya bukan nilai dan prestasi, unggul dan rendah, tetapi kedalaman pemikiran, kepekaan terhadap lingkungan sosial keagamaan dan kemanusiaan,” paparnya.

Adapun narasumber yang hadir dalam seminar ini adalah KH Farid Dhofir Lc MSi, Dr Piet H. Khaidir, Ali Zulfikar MA, dan Imroatul Munawaroh sebagai moderator.

Mengawali sesi pertama, Farid Dhofir menjelaskan bagaimana relasi sosial keagamaan itu harus ada keterbukaan dan sejalan dengan kisah-kisah para sahabat yang berdampingan dengan nonmuslim atau para pendeta di masa-masa Islam pasca-Nabi Muhammad.

Sementara itu, pemateri kedua Dr Piet H. Khaidir, Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran dan Sains, menjelaskan bahwa relasi inklusivitas dalam agama dan keragaman harus memiliki power marketing yang jelas dan termanajemen. Juga, para agamawan, dai, dan khususnya guru harus berperan aktif dalam perkembangan teknologi dan media sosial.

“Apalagi dalam konteks dakwah dan lain sebagainya,” ujarnya.

Narasumber ketiga, Ali Zulfikar, menunjukkan hasil riset bahwa ada ketersinggungan dan pemendaman luka akibat kekerasan seksual yang bukan oleh orang lain sebagai pelakunya, melainkan orang terdekat sampai ke gurunya.

“Untuk itu, diperlukan upaya yang sungguh dari para aktor, baik guru, tokoh agama dan masyarakat, maupun pemerintah daerah,” jelasnya. (AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini