Tokoh Muhammadiyah Perumus Pancasila

0
123
Tokoh Muhammadiyah dalam Pusaran Rumusan Pancasila. (Istimewa)

Oleh: Anang Dony Irawan

Perkembangan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara setelah kemerdekaan Indonesia, Negara Indonesia melaksanakan nilai-nilai luhur Pancasila dalam seluruh aspek kenegaraan, baik pemerintahan maupun sosial kemasyarakatan. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai kaidah negara yang fundamental dan mendasar, sehingga sifatnya tetap, kuat, dan tidak dapat diubah oleh siapapun, termasuk oleh MPR atau DPR.

Pada hakikatnya, Pancasila mengandung dua pengertian pokok, sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia dan sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.

Dengan menggunakan tolok ukur hukum Pancasila telah memberikan inspirasi bagi negara Indonesia untuk dapat menyelenggarakan tatanan hukum nasional yang dinamis dan fleksibel menjembatani kultur budaya dan tradisi dalam bingkai keberagaman/pluralisme yang dimanifestasikan dalam kebinekaan tanah air dan bangsa dengan proses persatuan dan kesatuan.

Presiden Soekarno, yang salah satu anggota Muhammadiyah, pada saat berpidato dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaaan (BPUPK) tanggal 1 Juni 1945, pernah mengatakan mengenai pentingnya bangsa Indonesia memiliki sebuah philosofische gronslaag atau filosofi dasar yang memuat pandangan tentang dunia dan kehidupan (weltanschauung). Ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia merdeka, yang kemudian dinamai “Pancasila”.

Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas. Pada saat itu Bung Karno menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yakni Sila pertama “Kebangsaan”, sila kedua “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”, sila ketiga “Demokrasi”, sila keempat “Keadilan sosial”, dan sila kelima “Ketuhanan yang Maha Esa”. Yang kemudian dibentuklah panitia 9, di antaranya Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Mr AA Maramis, dan Achmad Soebardjo.

Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses penjajahan bangsa asing, namun tatkala akan mendirikan suatu negara telah memiliki suatu landasan filosofis yang merupakan suatu esensi kultural religius dari bangsa Indonesia sendiri yaitu berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan dan berkeadilan. Bahkan kemudian di era reformasi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mencanangkan Empat Pilar Bangsa yang kemudian dirubah menjadi Empat Konsensus Nasional yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Lalu setiap tanggal 1 Juni sebagai peringatan Hari Lahir Pancasila yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2016 melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. Pancasila dan UUD NRI 1945 sudah final. Bahkan, saat UUD diamandemen pada awal era reformasi, dinyatakan  bahwa Pembukaan UUD yang didalamnya terdapat teks Pancasila tidak boleh diubah, apalagi bentuk negara juga sudah final tidak boleh mengalami perubahan.

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan juga memberikan sumbangsihnya dalam pusaran perumusan Pancasila melalui tokoh-tokohnya. Ada Ki Bagus Hadikusumo, yang merupakan tokoh Islam yang sangat penting selama masa konsolidasi konstitusi Indonesia. Perannya sangatlah besar dalam rumusan Pancasila.

Di laman UMP, Muhammadiyah dan Pancasila: Ki Bagus Hadikusuma dan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa disebutkan peran beliau, pertama, berkaitan dengan wacana “negara berdasarkan ajaran Islam”, yakni tawaran negara yang mengadopsi nilai-nilai Islam bersama perwakilan muslim lainnya. Kedua, berkaitan dengan perumusan Piagam Jakarta dan Pancasila. Memperjuangkan konsep “negara berdasarkan ajaran Islam” adalah upaya konstitusional pertama untuk mempraktikkan politik Islam.

Lalu KH Mas Mansur, seorang ulama dan tokoh Muhammadiyah, juga berperan penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan dalam perumusan Pancasila sebagai anggota BPUPK. KH Mas Mansur mendukung gagasan Pancasila sebagai dasar negara yang dapat menyatukan berbagai golongan dan agama di Indonesia.

Kemudian Dr Abdul Kahar Muzakir, seorang tokoh Muhammadiyah lainnya, turut aktif dalam BPUPKI dan PPKI. Sebagai seorang akademisi dan pemimpin Muhammadiyah, Dr Abdul Kahar Muzakir memberikan pandangan-pandangan intelektual yang mendukung pengembangan konsep Pancasila.

Mr Kasman Singodimedjo juga menjadi salah satu tokoh penting didalam sejarah perjalanan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, terkhusus dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, pemimpin, dan tokoh Muhammadiyah, Kasman Singodimedjo memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembentukan fondasi negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Begitulah kiprah tokoh-tokoh Muhammadiyah yang terlibat aktif dan menunjukkan hal yang signifikan bagi kemerdekaan bangsa Indonesia dalam pusaran rumusan Pancasila.

Kemudian pada Muktamar Ke-47 Muhammadiyah tahun 2015 di Makassar, Muhammadiyah memposisikan Pancasila sebagai Dar al-Ahdi Wa al-Syahada. Sebuah ijtihad kontemporer Muhammadiyah yang berangkat dari situasi terkini di tubuh bangsa Indonesia sekaligus penegas identitas keIslaman dan keIndonesiaan dimana secara bahasa Dar al-Ahdi Wa al-Syahadah berarti negara kesepakatan dan persaksian.

Bagi Muhammadiyah, tujuan utama pengesahan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa al-Syahadah merupakan pedoman bagi kaum muslim saat terjadi pertukaran ideologi dalam skala global maupun nasional. Selain itu, Muhammadiyah ingin memberikan benteng ideologi ketika berada di tengah gempuran paham keagamaan yang kini beragam dan memiliki kecenderungan ekstrem, baik kanan maupun kiri.

Jadinya Pancasila tidak hanya dimaknai sebagai dasar negara, namun juga ideologi negara yang patut untuk selalu menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Mulai dari pimpinan negara sampai ke rakyat Indonesia.

Tidak cukup sampai di situ, Muhammadiyah juga menwakafkan kader-kader terbaiknya dari sebelum bahkan sampai sekarang untuk memajukan umat dan bangsa. Muhammadiyah juga mempunyai tanggung jawab moral dalam menjaga keberlanjutan Pancasila yang sudah menjadi salah satu konsensus bersama bangsa Indonesia.

Anang Dony Irawan

Wakil Ketua PCM Sambikerep, dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, penikmat sejarah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini