Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi
KLIKMU.CO
Ki Bagus Hadikusumo dan Buya Yunahar pernah menawarkan Tasawuf Ihsan, Buya HAMKA mengenalkan Tasawuf Modern, tapi tak cukup diperhatikan. Tradisi sufistik amatlah penting karena itu Kiai Dahlan memimpin pengajian Pepadhanging Ati, salah satu tarekat yang ada di Solo.
Nasib tasawuf dan filsafat dalam keberagamaan di Persyarikatan kurang lebih sama: kurang baik.
Ikhtiar Buya HAMKA untuk mengenalkan tradisi sufistik di kalangan santri Muhammadiyah tampaknya kurang mendapat respons, bahkan dalam beberapa kurun terakhir paham keberagamaan malah cenderung kian ke kanan dengan pendekatan tekstual ala Salafi-Wahabi terus mengental.
Proses pembentukan watak dan karakter keberagamaan–manhaj–memang tak pernah final dan memang begitulah seharusnya. Pendekatan tarjih, dalam hal ini Bayani-Irfani-Burhani, memang memenuhi syarat minimal, tapi belum mencukupi. Sebab, tradisi keberagamaan tak cukup hanya bersandar pada tiga trisula meski secara global diilustrasikan pada jargon kembali pada Al-Quran dan As-Sunah.
Sebuah jargon yang tidak saja diklaim hanya milik Persyarikatan, tapi Wahabi, Salafi, gerakan tarbiyah lainnya juga punya jargon sama. Ironisnya kesamaan jargon ini di tataran akar rumput kerap terjadi anomali ideologi, bahkan penyamaran dalam berbagai aspek. Sehingga banyak jamaah yang sulit membedakan mana gerakan Salafi-Wahabi dan Muhammadiyah.
Yang kemudian dilihat adalah Muhammadiyah dikenal tak ramah dengan tradisi sufistik. Meski secara personal ada beberapa pengamal tarekat yang tak diekspos, para pengamal zikir pagi dan petang, puasa putih (Yawm Albid), qiyam al lalil adalah bukti kerinduan jamaah Persyarikatan terhadap tradisi sufistik–meski dalam tradisi sufistik cara demikian (berizikir tanpa mursyid) justru dipersalahkan.
Pada sisi lain, ulama-ulama Muhammadiyah di awal pergerakan justru lekat dengan tradisi sufi, sebut saja Kiai Dahlan, Kiai Fakhruddin, Kiai Bagus, Pak AR, Kiai Abdurahim Nur, dan para ulama mutakhir semisal Buya Syafii, Prof Amin Abdullah, Prof Malik Fadjar, Prof Imam Suprayogo, dan beberapa ulama Muhammadiyah lainnya yang tak bisa disebut. Meski bagi sebagian jamaah, tradisi sufi ini masih asing dan sebagian malah takut dan menghindar dengan alasan bidah.
Generalisasi ta’rif takhayul, bidah, dan khurafat telah menghilangkan makna generiknya dan kehilangan orisinalitas. Cenderung tekstual dan hanya melawan kemapanan tanpa tawaran model. Hal mana justru mengaburkan tradisi santri berbasis jam’iyah pada tataran yang substantif.
Lantas, tradisi keberagamaan macam apa yang bakal dikembangkan? Pertanyaan menarik di tengah ghirah melawan TBC. Sayangnya, belum ada model baku yang diidealkan sehingga karena belum adanya model yang rigid itu banyak warga Muhammadiyah kemudian bisa dengan mudah menerima paham Wahabi atau Salafi menjadi bagian pergerakan keberagamaan.
Kenapa demikian? Jawabnya pendek: Muhammadiyah belum punya model yang dibakukan meski kemudian bisa dialihkan secara rasional bahwa sebab tiadanya model itulah yang menguatkan tradisi kemodernan dan keterbukaan Muhammadiyah.
Apakah kemudian boleh dikatakan bahwa dalam tauhid menganut paham Wahabi, dalam fikih dan muamalah menganut paham Salafi? Tak ada yang menolak meski tak semua menerima. Mungkin semacam tawaqquf untuk mencuatkan pikiran nyaman di tengah sengkarut manhaj.
Sampai tahapan ini, saya belum pernah menemukan kajian atau riset dari para alim dan cendekiawan Muhammadiyah yang representatif untuk membangun model manhaj Muhammadiyah sebagai ijma, kecuali potongan-potongan ide dan gagasan parsial. Kerja pergerakan memang tak sekadar urunan atau sibuknya rapat pengurus, tapi lupa pada yang esensi: bahwa Muhammadiyah adalah harakah tajdid. Wallahu taala a’lam…