Undang Dinas Pendidikan, SD MPK Pracimantoro Wonogiri Siap Implementasikan Kurikulum Merdeka

0
186
Para guru belajar bagaimana mengimplementasikan Kurikulum Merdeka 2022 bersama Drs Priyono SPd MPd, Kepala Seksi Manajemen dan Peningkatan Mutu Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Surakarta. (Ari Priyono/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Sabtu (13/8/2022) bertempat di Aula Gedung Kampus 1 SD Muhammadiyah Program Khusus (MPK) Pracimantoro, Wonogiri, para guru belajar bagaimana mengimplementasikan Kurikulum Merdeka 2022 bersama Drs Priyono SPd MPd, Kepala Seksi Manajemen dan Peningkatan Mutu Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Surakarta.

Kepala SD MPK Pracimantoro Wonogiri Ari Priyono SHI mengucapkan selamat datang kepada Drs Priyono SPd MPd. “Terima kasih sudah berkenan singgah dan memenuhi undangan kami untuk memberikan pencerahan terkait implementasi Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan,” kata Ari Priyono dalam sambutannya.

Dia menambahkan, kondisi pendidikan di Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Rendahnya indeks literasi membaca, rendahnya hasil belajar peserta didik, hingga adanya ketimpangan kualitas belajar antar wilayah merupakan beberapa indikator krisis belajar yang terjadi dan diperparah dengan adanya pandemi kemarin.

“Perubahan kurikulum menjadi salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk memulihkan sistem pendidikan dan krisis belajar tersebut. Kurikulum yang dirancang dengan baik akan mendorong dan memudahkan guru dalam mengajar. Oleh karena itu dalam kesempatan ini mari sebagai insan pendidikan diharapkan kita terus belajar meningkatkan kompetensi baik profesional maupun pedagogik,” paparnya.

Sementara itu, bimbingan teknis kali ini difokuskan pada pembelajaran dan asesmen pada Kurikulum Merdeka. Pada awal penyampaiannya, Priyo, sapaannya, mengajukan sebuah pertanyaan tentang apa itu pembelajaran paradigma baru?

“Pembelajaran paradigma baru lebih pada upaya upaya untuk memastikan praktik pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Oleh sebab itu pada Kurikulum Merdeka, pendidik memiliki keleluasaan untuk merumuskan tujuan pembelajaran serta rancangan pembelajaran dan assesmen yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik sehingga proses pembelajaran akan menjadi proses pembelajaran yang terbuka dan dinamis,” paparnya.

Pembelajaran dan asesmen, kata dia, merupakan satu kesatuan yang sebaiknya tidak dipisahkan. Pembelajaran dapat diawali dengan proses perencanaan asesmen dan perencanaan pembelajaran. Pendidik perlu merancang asesmen yang dilaksanakan pada awal pembelajaran, pada saat pembelajaran, dan pada akhir pembelajaran. Perencanaan asesmen, terutama pada asesmen awal pembelajaran, sangat perlu dilakukan karena untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik. Hasilnya digunakan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian peserta didik.

“Perencanaan pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan asesmen pembelajaran,” ujarnya.

Adapun tujuan pembelajaran disusun dari capaian pembelajaran (CP) dengan mempertimbangkan kekhasan dan karakteristik satuan pendidikan. Tujuan pembelajaran juga harus dipastikan oleh pendidik agar sesuai dengan tahapan dan kebutuhan peserta didik.

Priyo melanjutkan, proses selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran yang dirancang untuk memberi pengalaman belajar yang berkualitas, interaktif, dan kontekstual. Pada siklus ini, pendidik diharapkan dapat menyelenggarakan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.

“Tahapan selanjutnya adalah proses asesmen pembelajaran. Asesmen dapat berupa formatif dan sumatif. Asesmen formatif dapat berupa asesmen pada awal pembelajaran dan asesmen pada saat pembelajaran. Asesmen pada awal pembelajaran digunakan mendukung pembelajaran terdiferensiasi sehingga peserta didik dapat memperoleh pembelajaran sesuai dengan yang mereka butuhkan,” tuturnya.

Sementara itu, asesmen formatif pada saat pembelajaran dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan refleksi terhadap keseluruhan proses belajar. Apabila peserta didik dirasa telah mencapai tujuan pembelajaran, maka pendidik dapat meneruskan pada tujuan pembelajaran berikutnya. Namun, apabila tujuan pembelajaran belum tercapai, pendidik perlu melakukan penguatan terlebih dahulu. Selanjutnya, pendidik perlu mengadakan asesmen sumatif untuk memastikan ketercapaian dari keseluruhan tujuan pembelajaran.

“Pemerintah tidak mengatur pembelajaran dan asesmen secara detail dan teknis. Namun demikian, untuk memastikan proses pembelajaran dan asesmen berjalan dengan baik, pemerintah menetapkan prinsip pembelajaran dan asesmen. Prinsip pembelajaran dan prinsip asesmen diharapkan dapat memandu pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang bermakna agar peserta didik lebih kreatif, berpikir kritis, dan inovatif,” ujarnya menutup rangkaian materi yang disampaikan tentang panduan pembelajaran dan asesmen 2022. (Ari Priyono/AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini