Wajah Topeng Manusia dan Kebenaran Abu-Abu

0
20
Ilustrasi Pinterest

Oleh: Ace Somantri

KLIKMU.CO

Sifat manusia memiliki dasar potensi kebaikan, namun juga karena manusia adalah wujud materi yang diciptakan sehingga secara fisik akan mengalami sifat-sifat alami seperti benda biasanya. Manusia yang terdiri dari struktur anggota tubuh yang tersusun dengan bentuk yang baik, Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Q.S At-Tiin (95:4 ).

Nilai fisik yang baik menjadi bukti nyata bahwa manusia salah satu dari sekian deretan ciptaan yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta Allah Ta’ala yang mendapatkan penciptaan sangat sempurna dibanding dengan yang lainnya. Puji syukur patut diungkapkan penuh ketulusan dalam kata-kata nurani.

Hanya sangat disayangkan dan disesalkan, manusia sejak dicipta dengan kesempurnaan yang dimiliki kerap kali lupa dan melupakan kesadaran dirinya sebagai mahluk. Siapa dirinya, harus bagaimana sebenarnya dan seharusnya diperbuat dan apa saja yang menjadi tujuan hidupnya hingga kematian menjemput ajalnya tidak membawa beban berat yang tidak semestinya.

Seorang psikolog kenamaan, Sigmund Freud, menyatakan bahwa manusia itu sikap dan prilakunya didominasi oleh wajah topeng atau wajah bukan sebenarnya, melainkan lebih banyak yang dimunculkan dalam permukaan dari hasil rekayasa. Dalam Islam, sangat tegas dan jelas memberikan ajaran bahwa manusia harus memiliki sikap jujur dan terbuka, rasional dan logis serta objektif. Sekalipun manusia sebagai mahluk yang berbeda dan lebih unggul, bukan berarti manusia harus sombong berbangga diri hingga prilaku takabur.

Pada suatu ketika ada hal menarik dalam sebuah dialog, seorang perempuan bertanya terkait dengan kebenaran dan kejujuran (sidiq) diera abad modern lebih cenderung abu-abu demi sebuah hasrat terpenuhinya kepentingan dirinya. Di sisi lain, bahwa kebenaran harus jelas dan tegas pilihan warnanya tanpa ada embel-embel lain yang mempengaruhinya sehingga berubah warna.

Benar adanya, fakta sosial kehidupan manusia pada umumnya dalam bersikap selalu lebih banyak cenderung ambigu berprilaku abu-abu hanya untuk menyelamatkan diri, atau dikenal istilah aktifis sosial pemain aman (safety player). Sikap tersebut menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa, apalagi dalam lingkungan kerja sebuah entitas sosial. Bahkan, bukan hanya sekedar mencari aman melainkan demi sebuah tujuan tahta dan jabatan perubahan warna baik menjadi warna buruk ditembus tanpa rasa takut, apalagi malu.

Sikap ambigu manusia telah menjadi hukum sosial alami, demi sebuah keamanan pada diri pribadi sehingga berupaya terus menutup wajah sebenarnya. Mempertebal topeng salah satu jalan termudah dan merupakan cara cepat menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Tidak peduli cap dan stigma profil orang munafik, baginya yang paling penting hasrat dan tujuan tercapai dan terpenuhi sesuai apa yang diharapkan.

Memihak pada kebaikan dan keburukan selalu diabu-abukan demi sebuah kesamaran dalam pilihan bertindak, padahal warna baik itu jelas dan warna buruk itu jelas, dan sangat jelas perbedaanya. Sehingga dalam realitas sosial, masyarakat pada umumnya sering salah kaprah dalam melihat dan menilai mana etiket dan mana etika.

Sikap tersebut seperti orang atau sesorang dengan kata-katanya sopan, santun dan juga respek terhadap hal-hal muncul didepannya dan juga dalam penampilannya terlihat secara verbal menunjukan keadaban, namun disisi lain dalam sikap sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang ditampilkan dalam permukaanya. Sehingga banyak orang terpana dan terpengaruhi dengan tindak-tanduk tersebut, seolah-olah orang tersebut adalah orang baik. Maka, saat melihat dirinya orang tidak terjebak untaian kata dan penampilan fisik, melainkan melihat rekam jejak karya dan logic thinking yang diungkapkan.

Topeng wajah semakin tebal, tidak menutup kemungkinan prilaku jujur dan terbuka semakin sulit menjadi tabiat. Justru muncul sikap yang dekat dengan sifat-sifat kemunafikan dan kefasikan, wallahu’alam. Hanya saja fenomena hidup manusia kian hari semakin terasa akan mahalnya kejujuran, keterbukaan dan objektifitas dalam bersikap. Perbuatan tersebut sulit diwujudkan karena gegara orientasi materi finansial, padahal tidak sedikit mendatangkan kerugian yang berujung pada kesialan.

Yang memprihatinkan dan mengerikan, sikap-sikap tersebut menjadi perangai ahlak pada sosok yang berprofesi kelas menengah keatas dengan latarbelakang pendidikan cukup tinggi, bahkan dikenal sebagai tokoh-tokoh masyarakat dengan baju jabatan dan tahta pada entitas bisnis dan institusi sosial. Dapat difahami secara kasat inderawi, mereka berprilaku demikian tiada lain hanya untuk memanfaatkan posisi dan situasi demi sebuah wujud materi. Setinggi apapun status dan kelas sosial yang dimiliki, jikalau prilaku dan perangai ahlaknya secara verbal terlihat santun dan beradab padahal wujud aslinya tersembunyi yang memiliki tabiat hati buruk.

Konsekuensi dari sikap wajah bertopeng atau bermuka dua, ada kecenderungan dalam prilaku kesehariannya lebih banyak mengedepankan kebenaran abu-abu. Pasalnya, setiap tindakan yang diambil berorientasi pada pemenuhan kepentingan pribadi dan abai pada kepentingan untuk kebaikan orang banyak.

Sementara Islam mengajarkan untuk berpihak pada kebenaran yang nyata, jelas dan tegas sehingga terhindar keberpihakan kepada kebenaran yang tidak jelas. Adapun konsekuensi berdampak kepada pribadi dapat diabaikan selama untuk kebaikan entitas orang banyak yang berpihak pada sikap sebenarnya. Namun penting difahami, kebepihakan kepada orang banyak bukan berati kebanyakan orang semata secara kuantitas.

Sangat mungkin fenomena hari ini kecenderungan orang banyak lebih berpihak pada sikap-sikap prilaku orang yang pandai menyembunyikan keburukannya, sehingga orang yang jujur dan terbuka terkadang nyatanya banyak orang tidak menyukai karena dianggap tidak lumrah sikap dan prilakunya. Selain itu pula, jikalau mengukuti yang jujur dan terbuka ada kesan tersembunyi pada orang kebanyakan dalam benak pikirannya merasa dirinya ikut terancam karir kehidupan yang dijalaninya. Sikap itulah pada akhirmya menjadi kebiasaan orang pada umumnya.

Berprilaku jujur, benar dan terbuka menjadi “barang langka” ditengah-tengah masyarakat yang dominan berprilaku abu-abu yang penuh dengan keambiguan. Kadang lebih memprihatinkan dan memilukan, sikap yang langka tersebut saat berdiri ditengah-tengah banyak orang seolah menjadi sosok orang “gila” yang tak ada teman dan sahabat yang fatsun kepadanya, bahkan dijauhi dan ditinggalkan.

Sungguh mengerikan zaman modern yang seharusnya bersikap maju modern penuh dinamis, namun nyatanya didominasi sikap jahiliyah atau dungu istilah bung Rocky Gerung. Tidak mudah, berbuat kebaikan yang linear dengan perkataan dan ungkapan. Jauh dari tanah ke langit kesempurnaan seorang manusia diabad digital ini, kian hari semakin tidak ada malu kita umat beragama menutupi keburukan dengan baju kebesaran jabatan atau tahta dan juga harta.

Simbol-simbol verbal kesantunan dan keadaban terlihat dalam visual berpenampilan rapih dan gagah membuat orang terpesona penuh hormat seakan dia seorang yang mulia nan terhormat. Ta’dzim umat pada era ini terhadap sosok tokoh berjubah status sosial, harta, tahta dan hal lain yang bersimbol material duniawiyah tampil dimuka publik seakan dirinya orang terpandang penuh wibawa.

Sulit dapat penghargaan dan dihormati umat manakala berpenampilan diri lusuh, kumel, kucel, dan dekil. Status sosial kasta rendahan selalu dipandang sebelah mata, kata dan kalimatnya nyaris tak pernah didengar oleh kebanyakan orang ” emang elu siapa? berani-beraninya bicara ” begitu kira-kira bahasa nyinyiran dibalik jubah status tahta dan hartanya. Mengatakan benar sekalipun jikalau keluar dari mulut sosok orang yang lusuh dan dekil kecenderungan tidak dianggap dan diabaikan, apalagi berujar kata salah semakin dicaci dan dimaki kira-kira begini ungkapanya “diam kamu tak usah bicara tau apa kamu”.

Sungguh berat menghadapi kehidupan serba kemasan, hampir semua orang melihat sesuatu apa yang terlihat oleh inderawinya terlebih dahulu yang dilihat adalah kemasannya, termasuk kata-kata seseorang harus melihat status sosialnya, jika yang bicara berharta, bertahta dan berstatus sosial tinggi ketika salah berkata pun dianggap benar, apalagi kata-katanya benar selalu kutip terus seolah tak ada lagi kalimat lain.

Wajah bertopeng memang sudah lumrah dalam realitas sosial, baik untuk mengelabui dan menipu maupun untuk menjaga dan menghindari sifat sombong dan takabur, sama fungsinya dapat dimanfaatkan oleh siapapun untuk kebenaran maupun pembenaran. Wallahu’alam.

Ace Somantri, dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini