Waspada Monster Penghancur Generasi Pemuda

0
176
Waspada monster penghancur anak-anak. (Pedomanbengkulu.com)

Oleh: Dian Yuniar

KLIKMU.CO

Dulu, para orang tua waswas dalam menjaga anak perempuan mereka. Tetapi sekarang, para orang tua lebih ketir-ketir dalam menjaga anak laki-laki.

Betapa tidak, monster penghancur anak laki-laki yang tak paham cinta (LGBT) lebih banyak dan lebih bebas berkeliaran dengan legalitas dan perlindungan yang didapat dari UNDP (United Nations Development Program) yang ada di bawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). Jadi, semua negara yang menjadi anggota dari PBB ya autopatuh.

Belum lama ini, podcast milik artis Deddy Corbuzier mendapat kecaman keras dari netizen terkait LGBT, bahkan dilaporkan ke pihak berwajib, karena mengundang pasangan gay Ragil dan Fred, dengan judul yang mengerikan, yaitu Tutorial Menjadi Gay di Indonesia. Tentu saja mengundang kontroversi bagi netizen. Karena secara gamblang dijelaskan proses awal menjadi gay yang ternyata mirip dengan penggunaan narkoba, yaitu coba-coba.

Masih ingat cerita dari dr Robiah Khairani Hasibuan atau yang akrab dipanggil dr Ani, seorang ahli syaraf yang pernah bekerja di RSCM, begitu miris dan memprihatinkan. Sayang tulisan beliau di FB sudah di-banned karena menceritakan secara gamblang bahaya LGBT.

Meskipun sudah lama, mari menolak lupa dengan menghangatkan kembali cerita dari beliau. Supaya para orang tua semakin gencar menjaga lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan pergaulan anak-anak laki-laki mereka.

Sejak 1997 dr Ani berurusan dengan para gay dan sampai hari ini belum pernah absen menangani pasien gay. Mereka pasien pengidap HIV terbanyak yang beliau tangani dan yang masih hidup tinggal beberapa saja. Kebanyakan meninggal karena kriptokokus maningitis (infeksi jamur di otak) akibat kehilangan imunitas karena HIV.

Dari pengamatan beliau, ternyata gay itu ada “kasta”-nya. Ada yang “dominan”, bisa jadi para dominan ini adalah pengidap kelainan seksual (penyuka sesama jenis) yang sebenarnya, biasanya mereka ini yang punya uang dan lebih tua secara umur, dan mengenalkan penyimpangan seksual kepada anak laki-laki yang baru menginjak dewasa, baik secara paksaan maupun dengan bujuk rayu.

Lalu ada yang “submissif”, atau bisa dikatakan semacam “piaraan” dari para “dominan”. Piaraan atau “submissif” ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah yang biasa disebut KW ori, ada juga yg kelas sandal jepit (tapi bukan yang murahan juga), mungkin sebutannya KW II atau entah apa.

Perlakuan dari para “dominan” pada piaraan mereka juga berbeda, sesuai kasta piaraannya. Yang KW ori diperlakukan sangat istimewa. Masih menurut cerita dr Ani, ketika beliau bekerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat pasien mahasiswa dari universitas swasta terkenal di Jakarta yang kena meningitis kriptokokus. Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di Dallas, Amerika Serikat, di Indonesia dia tinggal sendiri. Anaknya tampan, klimis dan kelihatan anak baik-baik. Sang “dominan” sering ikut mengantar ketika si anak kontrol, dan yang mencengangkan, si dominannya ini ternyata seorang AKTIVIS LSM ANTI-HIV. Dari cerita dr Ani, si pasien ini kalau sedang mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus-elus punggung piaraannya dan menanyakan “Sakit ya sayang? Yang mana yang sakit? Sabar ya sayang”.

“Untung saya masih setia pada sumpah hipocrates, kalau saya mau berkhianat, si dominan itu saya suntik fentanyl 1000 cc biar mokat, mampus, ” demikian ucapan dr Ani.

Di kesempatan lain, dr Ani pernah juga dapat seorang “dominan” yang terkena infeksi medulla spinalis, spondilitis TB, jadi lumpuh kedua kakinya secara mendadak. Saat dirawat, submissifnya datang menemani. Itu piaraan dibentak-bentak, tidak ada kata sayang dan kemesraan. “Si submissif ini tampilannya sih kelas sandal jepit, dan memanggil dominannya abaaaang, jijik ya mendengarnya,” demikian cerita dr Ani lagi.

Ada juga piaraan bayaran, lanjut dr Ani, satu pasien asal Jogja yang meninggal dengan toksoensefalitis; bisul di dalam otak yang disebabkan oleh kuman tokso, mengaku dia submissif bayaran. Dipiara seorang laki-laki keturunan cina dengan bayaran 1000 hingga 2000 USD per bulan. Uangnya dia kirim ke Jogja untuk anak dan istrinya, miris sekali.

Dia ini sejatinya bukan gay, jadi semacam pelacur lelaki (gigolo) yang kala itu bekerja sebagai caddy di salah satu lapangan golf di Tangerang. Waktu ketahuan didiagnosa HIV & tokso, dia menangis meraung-raung, dan selama dirawat di RS baca Qur’an terus, “Kalau saya datang memeriksa, dia selalu terisak dan bilang menyesal. Pas ketemu istrinya, saya yang berkaca-kaca. Sebab istrinya perempuan berhijab rapi dengan dua balita yang juga berhijab,” tutur dr Ani.

Ada juga yang kakak adik, pasien dr Ani yang kesekian. Sejak kecil dikasih satu kamar dan satu ranjang oleh orang tuanya. Beranjak dewasa, tau-tau si kakak kena kripto. Diperiksakan ke RS positif HIV, ditanya pasangannya siapa, dia bilang adiknya. Ketika diperiksa adiknya juga positif HIV. Keduanya sudah meninggal dalam satu ruang rawat yg sama. Sejak perawatan di RS hingga pemakaman anak-anak itu, sang ayah tidak pernah muncul.

Dari pengalaman dr Ani menangani anak-anak yang terkena goda “para penyuka anus ini”, mereka menceritakan bahwa si dominan ini semakin agresif kalau yang digoda diam saja atau menunjukkan rasa takut. Tapi langsung berhenti kalau yang digoda secara spontan main fisik. Himbauan dr. Ani, agar orang tua mengajarkan mereka untuk bertindak agresif kalau ada yang coba-coba menggoda, jangan kasih ampun, langsung pukuli beramai-ramai, lanjutnya.

Dari wawancara dr Ani dengan pasien-pasien gay ini, mereka semua pernah mengalami anal seks, dan sebagian besar secara paksa. Selanjutnya mereka akan sangat dijaga dan ditemani oleh kelompok gay. Pergaulannya berganti dengan pergaulan gay.

Menurut dr Ani, cerita tentang LGBT, semuanya berakhir tragis. Kisah mereka berakhir dengan tokso, kripto, TB, pnemonia, kandida, dan diujung nasibnya, mati sendirian tanpa didampingi kaum-nya.  Mereka para monster anal itu seperti hilang ditelan bumi ketika tahu bahwa piaraan mereka mati mengenaskan.

“Belum pernah saya dengar yang berakhir spt di cerita fairytopia, misalnya seperti Cinderella, happily ever after,” imbuh dr Ani.

Dari sini bisa kita ambil pelajaran, jika anak-anak laki-laki bepergian, jangan diijinkan keluar sendirian, karena akan tampak sebagai mangsa empuk para monster penghancur masa depan mereka, usahakan berkelompok, supaya tidak ketakutan kalau ada gay yang coba datang menggoda. Karena para gay ini bisa tawarkan apa saja, bisa uang, bisa bujuk rayu, bisa juga ancaman.

Pentingnya mendidik anak-anak sejak dini tentang moral dan aqidah akhlaq, terutama menurut syariah Islam, sehingga ketika mereka dilepas di lingkungan umum, mereka siap dengan perisai diri dari aqidah akhlaq yang diajarkan oleh orang tua.

Ada pepatah Cina berbahasa Inggris yang mengatakan “the bird of the same feathers are flock together”, yang artinya burung-burung yang sejenis akan berkumpul di satu dahan pohon yang sama dengan burung sejenis, burung gereja akan berkumpul dengan sesama burung gereja, burung gagak pun akan berkumpul di satu pohon yang sama dengan burung gagak lainnya, tidak mungkin ada bermacam-macam jenis burung yang berkumpul di satu pohon yang sama.

Hikmahnya adalah, orang-orang juga akan berkumpul dengan orang-orang yang sama juga, karakter yang sama, hobi yang sama, tabiat yang sama, tujuan yang sama, dan niat yang sama. Ambil contoh para pemancing, komunitasnya dengan pemancing juga, penjudi komunitasnya juga dengan penjudi. Artinya apa, orang jahat akan berkumpul dengan orang yang jahat juga. Demikian juga dengan orang baik, orang sholeh, mereka akan berkumpul dengan orang-orang yang sholeh dan berakhlaq baik pula. (*)

Dian Yuniar adalah pengurus MPS PCM Ngagel, Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here