Beda Muhammadiyah dengan NU Memandang Amal Usaha dan Cara Kerja

0
9983
Dr Nurbani Yusuf MSi menyampaikan materi dalan acara Baitul Arqam di UMM. (Tangkapan layar AS/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – “Di Muhammadiyah, semua amal usaha atau aset tidak ada satu pun yang bernama pribadi, apalagi keluarga. Semua aset Persyarikatan, mulai TK di kampung terkecil sampai univeritas bertaraf internasional, semuanya atas nama Muhammadiyah. Langsung urusannya dengan amal usaha. Karena itu tidak bisa diwariskan.”

Demikian disampaikan Dr Nurbani Yusuf MSi dalam acara Baitul Arqam dosen dan karyawan UMM yang berlangsung secara luring dan daring dengan penerapan protokol kesehatan, Jumat (30/4/2021).

Nurbani lantas mengomparasikan dengan Nahdlatul Ulama (NU) tanpa bermaksud untuk mencari mana yang benar dan salah, juga tak bermaksud untuk melihat mana yang baik maupun buruk.

Berbeda dengan di NU, semua aset milik pribadi dan bisa diwariskan ke anak/cucu. Akan tetapi tetap atas nama tenda besar jamiyah NU. Ini adalah sesuatu yang sangat sifatnya prinsipil.

Karena itu, mengutip kata mantan Wapres Jusuf Kalla, Muhammadiyah itu holding (perusahaan), sedangkan NU adalah franchise (waralaba). “Gus Dur juga pernah mengatakan, pengurus Muhammadiyah itu miskin-miskin, organisasinya kaya. Sedangkan pengurus NU kaya-kaya, tapi organisasinya miskin,” paparnya kepada peserta yang merupakan dosen dan karyawan pemula/baru UMM.

Di Muhammadiyah, lanjut Nurbani, semua aset juga tidak semua jadi langsung besar. UMM, misalnya, tidak bisa ujug-ujug besar. Seperti bangun seribu candi yang semalam selesai. Tapi penuh dengan perjuangan.

Bagaimana Muhammadiyah itu besar? Muhammadiyah ini besar salah satunya karena urunan. Karena itu, tak heran Carl Whiterington, peneliti senior asal Amerika Serikat, menyebut Muhammadiyah adalah organisasi yang diberkati.

“Meskipun ormas modern, cara kita membikin amal usaha itu sederhana banget: urunan. Siapa yang urunan, pengurus,” ujarnya lantas tersenyum.

Karena itu, model kedua ormas ini pun punya kekurangan dan kelebihan. Muhammadayah  tidak ada yang namanya ulama sebab sistemnya kolektif kolegial. Maka, tidak boleh berfatwa sendirian. Semua putusan berasal dari fatwa tarjih.

Sementara di NU ada penghormatan dan penghargaan sampai generasi ketiga dan keempat. Misalnya, Zuriyah KH Hasyim As’yari itu masih eksis. Sementara keturunan KH Ahmad Dahlan hampir susah dicari.

“Di Muhammadyah, selesai jadi pengurus, ya selesai, jadi anggota biasa. Tidak ada penghormatan,” ujarnya. Soal ini kita bisa mengacu pada Prof Din Syamsuddin yang menjadi ketua ranting usai tidak lagi menjabat Ketum PP.

Nurbani Yusuf lantas menekankan bahwa bermuhammadiyah dan membangun amal usaha itu sebetulnya wasilah. Sekolah dan unversitas yang jumlahnya ribuan itu bukan tujuan, melainkan hanya wasilah. Ia hanya alat untk mencapai tujuan. “UMM fungsinya sebagai media dakwah, bukan tujuan.”

Di akhir pemaparan, dosen yang baru saja menerbitkan buku “Merebut Tafsir Pancasila” itu menggambarkan bagaimana sejak awal pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan itu sudah berpandangan luas, berpikiran Islam kosmopolit. Jadi, hampir semua yang dicirikan gerakan Ahmad Dahlan adalah gerakan modernis dan kosmopolit atau “berselera kompeni”. “Ahmad Dhalan tidak tidak bangun klinik, tapi rumah sakit. Tidak bangun pesantren, tapi sekolah,”paparnya.

Terkait dengan itu, Gus Dur bilang bahwa “kemenangan” Muhammadiyah atas NU adalah kemenangan dialektik. Artinya, kegiatan yang awalnya ditolak jadi dibenarkan, jadi diikuti. Dulu sekolah dikafirkan, sekarang semua membangun sekolah. “Muhammadiyah memang selalu terdepan dalam inovasi,” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here