11 Juni 2026
Surabaya, Indonesia
Berita

Din Syamsuddin: Jangan Sampai Masjid Remaja Berubah Jadi Masjid Remako

Din Syamsuddin saat memberikan tausiah dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Remaja Kenjeran, Surabaya, Ahad (7/6/2026). (Yuda/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015, Prof KH M. Din Syamsuddin MA PhD, memberikan apresiasi sekaligus catatan penting saat mengisi Kajian Ahad Pagi Spesial di Masjid Remaja, Kenjeran, Surabaya, Ahad (7/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Din Syamsuddin mengaku terkesan dengan berbagai aktivitas yang dikembangkan takmir masjid. Menurutnya, Masjid Remaja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga telah berkembang menjadi pusat kegiatan sosial dan kebudayaan umat.

“Langsung saya terkesan bahwa masjid ini sangat banyak kegiatannya, dan takmir telah menjadikannya sebagai pusat peribadatan tapi juga sebagai pusat kebudayaan umat,” ujarnya.

Dia menambahkan, berbagai program kemaslahatan umat seperti pembinaan jamaah, pemberdayaan ekonomi, kegiatan sosial, hingga layanan kesehatan telah berjalan dengan baik di masjid tersebut. Hal ini, menurutnya, menunjukkan fungsi masjid yang ideal di tengah masyarakat.

“Memang semestinya masjid berfungsi demikian. Maka, Masjid Remaja telah mulai melakukan dan menampilkan fungsi-fungsi tersebut,” imbuhnya.

Meski demikian, Din Syamsuddin juga memberikan catatan terkait minimnya kehadiran generasi muda dalam kegiatan pengajian tersebut. Dia menilai hal ini perlu menjadi perhatian, mengingat identitas masjid tersebut mengusung nama “Remaja”.

“Namun pesan saya dari pengajian pagi hari ini, saya kurang banyak melihat remaja yang hadir,” tuturnya.

Dia bahkan melontarkan kelakar dengan menyebut istilah “Masjid Remako” atau remaja kolot, sebagai sindiran ringan agar masjid lebih aktif melibatkan kalangan muda di sekitar lingkungan masjid.

Lebih lanjut, ia mendorong agar Masjid Remaja Surabaya dapat menjadi salah satu model pengelolaan masjid berkemajuan di Jawa Timur, sejajar dengan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta yang dikenal secara nasional.

Din Syamsuddin menjelaskan, keberhasilan pengelolaan masjid tersebut terletak pada akuntabilitas dan keberanian takmir dalam menyalurkan dana umat secara cepat dan tepat sasaran, bahkan hingga saldo kas kerap dilaporkan mendekati nol karena langsung ditasarufkan untuk program kemaslahatan.

“Kalau dikelola dengan baik dan amanah, maka zakat, infak, dan sedekah itu akan datang dengan sendirinya,” pungkasnya.

(Yuda/AS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *