Guru Berprestasi Sekolah Akhlaq Berbagi 9 Tips agar Seimbang Menjadi Guru dan Ibu Hebat

0
127
Foto Ustazah Devie ketika quality time dengan ketiga buah hatinya. (Dok pribadi/KLIKMU.CO)

Surabaya, KLIKMU.CO – Ketika berbicara perempuan tentu tidak lepas dari pandangan sebagai sosok yang lemah, bergantung kepada laki-laki, dan terbatas untuk melakukan segala sesuatu. Namun era saat ini hal tersebut sudah tidak berlaku. Nyatanya sudah banyak perempuan mandiri, berpendidikan tinggi, berpenghasilan sendiri dan bahkan hebatnya bisa menjalankan banyak peran.

Seperti halnya sosok inspiratif dari Sekolah Akhlaq SMP Muhammadiyah 9 Surabaya ini. Ustazah Devie Silfiyani Sahrida SSi Gr atau yang akrab dipanggil Bu Pepi yang mampu membuktikan bahwa sebagai perempuan bisa menjalankan banyak peran dan mengembangkan dirinya. Pernah menjalani pendidikan profesi guru, pendidikan guru penggerak, sebagai pendidik di sekolah dalam satu waktu menjadi pengalaman berkesan sepanjang hidupnya. Tentu hal tersebut tanpa mengesampingkan tugas utama sebagai seorang Ibu dari tiga orang anak.

Memiliki dua peran yang keduanya harus berjalan dengan seimbang tentu bukan hal mudah. Guru dengan segudang tugasnya serta peran Ibu yang juga harus dilakukan setiap hari menjadi tantangan tersendiri bagi Guru pengampu mata pelajaran IPA kelas IX itu.

Namun , ia bisa menjalaninya dengan penuh tanggung jawab hingga ketika momen peringatan hari Guru bulan lalu mendapatkan penghargaan dari Walikota sebagai salah satu Guru Berprestasi sebagai Pelopor Guru Penggerak Kota Surabaya Tahun 2022.

“Tentu tidak mudah ya, tetapi saya berusaha menikmatinya untuk terus belajar dan berproses. Yang kadang bingung itu ketika ada tugas kedinasan yang berbarengan dengan anak lomba. Itu pinter-pinter bagi waktunya saja. Semoga penghargaan kemarin menjadi motivasi untuk kedepan lebih baik lagi,” ungkap perempuan yang saat ini menjadi Pengajar Praktik Guru Penggerak Angkatan 6 Kota Surabaya.

Ustazah Devie ketika menjalankan profesinya sebagai seorang pendidik yang mendampingi guru inti Muhammadiyah Surabaya. (Dok pribadi/KLIKMU.CO)

Dari pengalaman yang dia dapatkan, setidaknya ada sembilan hal yang dilakukan oleh ustazah yang selalu energik itu agar bisa menjadi guru dan juga Ibu hebat.

Pertama, tahan banting. Dapat menghadapi tantangan tanpa mengeluh dan tidak putus asa, karena semua ibu pasti punya tantangan yang berbeda dengan segala permasalahan dan keruwetan di rumah, namun semua permasalahan itu tidak boleh dibawa ke sekolah.

“Sebagai guru tentu harus profesional mendedikasikan ilmunya untuk siswa dan ini jelas bisa terganggu jika suasana hati tidak bisa terjaga dengan baik,” ujarnya.

Kedua, mengusahakan yang terbaik. Tidak perlu perfeksionis untuk menjadi guru dan ibu hebat, tidak perlu membuat standar yang terlalu tinggi dan menuntut semua yang dilakukan harus memenuhi standar tersebut.

“Pokoknya berusaha melakukan yang terbaik. Easy going saja semua dijalani dinikmati dan disyukuri,” imbuhnya.

Ketiga, efektifkan waktu di pagi hari. Menyiapkan sarapan untuk keluarga sebelum berangkat bekerja karena itu adalah bagian terpenting untuk mereka mengawali hari

Keempat, jadwalkan quality time. “Karena kuantitas dengan keluarga tidak banyak. Maka diperlukan agenda quality time setiap pekan atau bulan. Tidak harus liburan, cukup dengan kegiatan yang bermakna misalnya memasak bersama dengan anak di rumah,” ujarnya.

Kelima, memanfaatkan waktu luang dini hari. Menjadi seorang guru pun dituntut untuk memberikan pembelajaran yang menarik dan biasanya ide bisa muncul ketika malam saat semua anggota keluarga sudah tidur.

“Kalau yang ini diharapkan sebelumnya kita tidur dulu, bangun, shalat Tahajud baru kemudian bisa tenang mencari ide-ide kreatif,” paparnya.

Keenam, pembiasaan 3 kata ajaib. Anak dan siswa butuh role model. Jadi membiasakan mereka dengan mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih harus dilakukan setiap harinya agar karakter positif dapat terbentuk.

Ketujuh, jadwalkan me time. Sesekali meluangkan waktu untuk diri sendiri “me time” yang bisa dilakukan dengan melakukan hal sederhana yang disenangi. Misalnya nonton Netflix atau sekadar scroll medsos agar tidak spaneng.

Kedelapan, menjadi pendengar yang baik. Menjadi sosok teman buat anak, tempat curhat dan melepas keluh kesahnya. “Secapek apapun ketika sudah di rumah berusaha untuk menjalin komunikasi baik dengan anak,” katanya.

Terakhir adalah adalah memperluas sabar. Cukup mudah diucapkan, namun sangat sulit untuk diaplikasikan. Tetapi, sebisa mungkin harus banyak sabarnya, apalagi menghadapi tingkah anak didik di sekolah maupun anak sendiri yang kadang tidak sesuai harapan.

Lebih lanjut, dia berharap bisa terus memberikan manfaat untuk sekitar terlebih untuk anaknya. “Karena ‘ibu’ hanya terdiri dari tiga huruf, namun butuh waktu seumur hidup untuk berproses menjadi yang terbaik versi masing-masing. Selamat Hari Ibu untuk seluruh perempuan hebat,” tandasnya. (Risalatin N./AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini