17 September 2026
Surabaya, Indonesia
Opini

Memilih Teman, Memilih Arah Hidup

Memilih Teman, Memilih Arah Hidup (Ilustrasi AI/Klikmu.co)

Dwi Taufan Hidayat
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PCM Bergas, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kab Semarang

Memilih teman bukan sekadar memilih orang untuk berbincang atau berbagi cerita, tetapi juga memilih lingkungan yang membentuk hati, pikiran, kebiasaan, dan arah kehidupan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim berhati-hati dalam pergaulan, sebab kedekatan dapat membawa seseorang menuju kebaikan atau justru menjauhkannya dari Allah.

Rasulullah bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya sebagai teman dekat.”

Kebersamaan yang terus-menerus perlahan membentuk diri. Apa yang awalnya terasa asing dapat menjadi biasa. Bahkan, sesuatu yang dahulu dianggap salah bisa perlahan dianggap wajar. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah saya nyaman berteman dengannya?” tetapi tanyakan pula, “Apakah kedekatan ini membuat saya semakin dekat kepada Allah?”

Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman karib pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Teman yang Menguatkan dalam Kebaikan

Teman yang baik bukanlah orang yang selalu membenarkan kita. Ia berani mengingatkan ketika kita salah, menasihati ketika lalai, menguatkan ketika lemah, dan mendorong kita kembali kepada kebaikan. Nasihatnya mungkin terkadang tidak nyaman, tetapi bisa menjadi jalan keselamatan.

Sebaliknya, salah memilih teman dapat berakhir dengan penyesalan. Allah menggambarkannya:

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ۝ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي

“Wahai, celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrab. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku.” (QS. Al-Furqan: 28–29)

Lingkungan buruk sering memengaruhi secara perlahan. Dosa yang dahulu terasa berat menjadi candaan, ghibah dianggap hiburan, kebohongan dianggap strategi, dan kelalaian dalam ibadah dianggap biasa. Hati akhirnya kehilangan kepekaan karena terlalu sering melihat kesalahan.

Namun, memilih teman baik bukan berarti merasa lebih suci. Kita tetap diperintahkan berbuat baik kepada siapa saja. Yang perlu dijaga adalah siapa yang menjadi teman dekat, tempat mengambil nasihat, dan orang yang paling banyak memengaruhi hati kita.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Menjadi Sahabat yang Baik

Maka, evaluasilah pertemanan dengan jujur. Setelah sering bersama seseorang, apakah kita semakin rajin beribadah atau semakin lalai? Semakin menjaga lisan atau semakin mudah mencela? Semakin mencintai Al-Qur’an atau semakin jauh darinya?

Jika sebuah pertemanan membawa kita semakin dekat kepada Allah, jagalah dengan baik. Namun, jika pergaulan terus menjauhkan kita dari-Nya, beranilah mengambil jarak dengan bijaksana. Menjaga iman bukan berarti membenci atau merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Jangan pula hanya sibuk mencari teman yang saleh. Berusahalah menjadi teman yang baik bagi orang lain: yang menjaga aib, mengingatkan dengan lembut, menguatkan dalam kebaikan, dan mendoakan tanpa diketahui.

Hidup adalah perjalanan menuju Allah. Karena itu, jangan hanya memilih teman yang membuat kita tertawa, tetapi pilihlah mereka yang membuat kita ingat kepada-Nya. Sebab, boleh jadi salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah menghadirkan seseorang yang sederhana, tetapi melalui persahabatannya kita meninggalkan dosa dan semakin mencintai kebaikan.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat yang mencintai karena-Nya, mengingatkan ketika lupa, menasihati ketika salah, dan menguatkan ketika lemah. Semoga kita pun mampu menjadi sahabat yang demikian bagi orang lain. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *