KLIKMU.CO — Nabi Ibrahim AS merupakan peletak pondasi ketauhidan yang menjadi teladan bagi umat manusia. Pengaruh Nabi Ibrahim sangat kuat dalam berbagai kitab suci agama-agama besar di dunia.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Suyipto Hamzah saat mengawali ceramahnya pada Shalat Idul Adha di Masjid Bahagia, Jalan Makam Peneleh. Shalat Idul Adha yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng pada Rabu pagi tersebut dipadati jamaah, hingga memenuhi area depan masjid sampai batas Makam Belanda.
“Ismail-Ismail baru harus lahir di era modern ini. Tidak kikir, tidak silau dengan gemerlap dunia, tidak silau dengan harta, pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Hanya taklid kepada satu Tuhan, yakni Allah SWT,” ungkap Ustadz Suyipto Hamzah yang dikenal sebagai “Lawyer Pusat” di kalangan Muhammadiyah.
Ia juga dikenal sebagai sosok serba bisa, selain fasih berceramah dan berpidato, juga ahli bekam serta pengacara yang handal.

Selanjutnya, Ustadz Suyipto menyebut ada tiga hal yang dapat diteladani dari Nabi Ibrahim AS yang dikenal sebagai Bapak Para Nabi.
“Ketiga hal ini yang menjadikan Nabi Ibrahim memiliki keturunan para nabi besar, seperti Nabi Ismail, Ishaq, Yaqub, Yusuf, Daud, Sulaiman, Isa, hingga Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Tiga hal tersebut adalah pertama, kekuatan doa, sebagaimana dalam doa Rabbi habli minash shalihin. Kedua, keteladanan orang tua dalam berbakti kepada orang tua (birru aba’ikum tabirrukum abna’akum), yakni berbakti kepada orang tua agar anak-anak juga berbakti.
Ketiga, kepedulian Nabi Ibrahim terhadap kesejahteraan keluarga, termasuk pendidikan anak-anaknya, yaitu Ismail dan Ishaq, terutama dalam pendidikan tauhid serta adab dan akhlak. Hal tersebut menjadikan keduanya tumbuh menjadi nabi.
Selain itu, Nabi Ibrahim juga memberikan perhatian terhadap kesejahteraan keluarganya, baik Siti Hajar dan Nabi Ismail, maupun Siti Sarah dan Nabi Ishaq, dengan memastikan rezeki yang halal bagi keluarga.
“Kesuksesan dunia dan akhirat yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS perlu diteladani umat Islam dalam kehidupan modern yang penuh ketidakpastian ini,” tutur Ustadz Suyipto Hamzah menutup ceramahnya.
(Arijawan/AS)








