KLIKMU.CO – Pagi ini, pukul 09.00 WIB, halaman MI Muhammadiyah 25 Surabaya berpendar oleh langkah-langkah penuh harap. Wali murid datang membawa satu kerinduan yang sama: menjaga nyala ibadah agar tetap terang, meski Ramadhan telah berlalu. Dalam balutan tema “Menghalau Kemalasan Beribadah Pasca Ramadhan”, kajian islami ini menjadi ruang berteduh bagi hati yang ingin kembali diteguhkan, Sabtu (18/4/2026)

Suasana khidmat mengalir sejak lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan oleh Ulima Syifa Amiri, siswa kelas 5A. Suaranya bening, mengalun seperti embun pagi yang jatuh perlahan. Sari tilawah oleh Saffanah Berlian Zhaafirah dari kelas 4C melengkapi keindahan, menenangkan jiwa yang haus akan makna. Di sisi samping Mama Abil memandu acara dengan hangat, menghadirkan nuansa kekeluargaan yang begitu terasa.
Hadir dalam kajian tersebut, Dra Rohmatul Ummah MPdI menyapa hati dengan kelembutan ilmu yang menenangkan dengan mengajak hadirin merenungi firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 133–135—sebuah seruan untuk bersegera meraih ampunan-Nya dan surga yang luasnya melampaui langit dan bumi.
Jangan Tunda Kebaikan

“Jangan tunda kebaikan,” pesannya lirih namun menguatkan. “Bergeraklah segera. Tahan lisan dari ghibah, redam amarah sebelum ia membakar. Jadilah hamba yang dermawan—yang memberi dalam lapang maupun sempit, yang memaafkan bahkan saat hati terluka.”
Ustadzah Rohmatul melukiskan sosok muttaqin sebagai pribadi yang tidak hanya kuat menahan diri, tetapi juga lembut dalam memaafkan. Saat tergelincir dalam dosa, mereka tak menunda untuk kembali—mengetuk pintu ampunan dengan penuh penyesalan dan harap.
Sesi tanya jawab pun menjadi ruang berbagi yang hangat dan penuh makna. Salah satu wali murid, orang tua dari Arsanders Daniswara Santoso, mengajukan pertanyaan tentang cara menjaga semangat ibadah di sebelas bulan setelah Ramadhan.
Dengan suara yang menenangkan, pemateri menjawab, “Niatkan setiap nasihat karena Allah. Sampaikan dengan kelembutan, bukan kemarahan. Doakan anak-anak di sepertiga malam terakhir, saat langit begitu dekat dengan doa. Dan jangan berjalan sendiri—rangkul guru, bangun sinergi, agar anak mendapat cahaya dari segala arah.”
Kekuatan Doa Orang Tua
Ustadzah Rohmatul juga membagikan sebuah kisah yang menggugah. Tentang seorang siswa yang dahulu tampak lelah dan sering absen karena kesibukan di luar sekolah. Namun, di balik itu, doa tak pernah putus dipanjatkan. Waktu berlalu, dan anak itu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh—kini berdiri sebagai anggota angkatan laut yang santun.
“Di situlah letak kekuatan doa dan kesabaran orang tua serta guru,” ujarnya, menggetarkan hati setiap yang mendengar.
Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan lain mengalir, tentang mana yang harus didahulukan─ibadah atau karakter.? Dengan bijak, Ustadzah Rohmatul menegaskan bahwa keduanya bukan untuk dipilih, tetapi untuk diseimbangkan.
“Hablumminallah dan hablumminannas harus berjalan beriringan, bahkan dengan seluruh makhluk ciptaan-Nya,” ucapnya.
Suasana berubah haru ketika seorang wali murid menyampaikan luka hatinya—tentang persahabatan yang retak, tentang kata-kata yang melukai. Air mata pun jatuh, dan ruangan seakan ikut diam. Dengan penuh empati, pemateri menenangkan.
“Balaslah keburukan dengan kebaikan. Belajarlah memaafkan. Ikhlas karena Allah adalah penawar paling lembut bagi hati yang terluka,” tutur Ustadzah Rohmatul.
Kajian pagi ini bukan sekadar pertemuan, tetapi perjalanan batin. Ada air mata, ada harap, ada tekad yang diam-diam tumbuh. Dalam pelukan doa di akhir acara, setiap hati dipersatukan dalam satu cita: mendidik anak-anak menjadi generasi islami yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bercahaya.
Sebab sejatinya, Ramadhan boleh saja berlalu. Namun ruhnya—harus tetap hidup, menyala dalam setiap langkah, dalam setiap doa, dan dalam setiap cinta yang ditanamkan kepada generasi masa depan.
Apresiasi Kepala Madrasah dan IKWAM
Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah, Ustadzah Fuadah, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para wali murid.
“Alhamdulillah, hari ini seratus wali murid hadir. Jika kelak enam ratus wali murid dapat berkumpul, insyaAllah kita siap melangkah lebih luas, meski harus keluar dari halaman sekolah,” tuturnya penuh harap.
Senada dengan itu, Ketua IKWAM, Bunda Ike, menyampaikan terima kasih yang tulus. Ia berharap pertemuan ini bukan sekadar perjumpaan, tetapi menjadi awal dari langkah-langkah kebaikan yang terus bertumbuh di masa depan.
(Islakha/Muri)








