KLIKMU.CO – Menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak cukup dengan menambah waktu belajar. Siswa juga perlu memiliki mental yang siap, disiplin, serta fondasi iman dan adab yang kuat.
Hal itu dibangun melalui Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) kelas 6A, 6B, 6C, dan 6D MI Muhammadiyah 25 Surabaya. Mengusung tema “Siap TKA, Siap Masa Depan”, kegiatan berlangsung Jumat (11/9/2026) hingga Sabtu (12/9/2026) di lingkungan madrasah.
Mabit tidak sekadar menjadi kegiatan menginap. Siswa dilatih disiplin melalui ibadah berjamaah, pembinaan, hafalan, murajaah, bangun pada dini hari, hingga menjaga kebersihan lingkungan.
Adab sebelum Ilmu
Rangkaian kegiatan dimulai dengan salat Isya berjamaah yang diimami Ustadz Pardoyo. Setelah itu, siswa mengikuti pembinaan bersama Ustadz Aksar Wiyono MPdI yang menekankan prinsip “adab dulu baru ilmu”.
Siswa diingatkan untuk tidak sombong, saling mengingatkan dalam kebaikan, membantu sesama, dan tidak mudah berburuk sangka.
“Jangan merasa hebat karena memiliki ilmu. Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati dan semakin baik dalam memperlakukan orang lain,” pesan Ustadz Aksar.
Ia juga mengenalkan tiga T sukses ala KH Ahmad Dahlan, yakni Thalabul Ilmi, Ta’awun, dan Tauhid. Ketiganya menjadi bekal bagi siswa untuk terus belajar, peduli kepada sesama, dan menjadikan tauhid sebagai dasar dalam menjalani kehidupan.
Usai pembinaan, siswa mengikuti hafalan dan murajaah Juz 30 bersama guru pendamping. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan istirahat sebelum siswa dibangunkan untuk salat Tahajud dan Witir.
Salat Tahajud diimami Ustadz Aksar Wiyono. Setelah itu, siswa melaksanakan salat Subuh berjamaah dengan imam sekaligus penceramah Ustadz Budi Asmawan ST.
Dalam ceramah Subuh, Ustadz Budi menjelaskan keutamaan salat sunnah Tahajud, salat sunnah dua rakaat sebelum Subuh, Dhuha, dan salat sunnah sebelum Zuhur. Ia mengajak siswa membangun kebiasaan beribadah secara istiqamah.
Setelah ceramah, siswa kembali melakukan murajaah hafalan Juz 30. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan bersih-bersih lingkungan sekolah sebelum siswa melakukan persiapan dan mengakhiri Mabit.
Kesiapan Tidak Dibangun Mendadak
Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya Ustadz Ferry Rismawan MPdI mengatakan, persiapan TKA merupakan bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar mengejar hasil ujian.
“Anak-anak harus memahami bahwa kesiapan itu tidak dibangun secara mendadak. Belajar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, ibadah dijaga, adab dibiasakan, dan kedisiplinan dilatih. TKA adalah salah satu tahapan, tetapi kesiapan menghadapi kehidupan jauh lebih panjang,” ujarnya.
Sementara itu, Bidang Ismubaris MIM 25 Ustadzah Marlik SPd menegaskan pembinaan keislaman tidak cukup berhenti pada penyampaian materi. Siswa perlu mengalami dan mempraktikkannya secara langsung.
“Anak-anak perlu mengalami langsung. Mereka salat bersama, murajaah, bangun Tahajud, mengikuti ceramah, kemudian belajar bertanggung jawab dengan membersihkan lingkungan. Dari kebiasaan seperti inilah nilai-nilai keislaman diharapkan tumbuh menjadi karakter,” tuturnya.
Salah satu peserta Al Ghozali mengaku senang mengikuti Mabit. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu melancarkan hafalan sekaligus memberikan pembekalan untuk menghadapi masa depan.
“Saya sangat senang mengikuti Mabit. Kami bisa melancarkan hafalan dan mendapatkan pembekalan ilmu sehingga ke depannya lebih siap dan selalu termotivasi,” ujarnya.
(Islakha/AS)








