Majelis Tarjih dan Tajdid Serahkan Buku Kurikulum Sekolah Tarjih di Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah

0
92
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya Dr Thoat Setiawan MHI (kiri) menyerahkan buku "Kurikulum Sekolah Tarjih di Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah" kepada jajaran PDM Surabaya (Yuda/KLIKMU.CO)

Surabaya, KLIKMU.CO – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya menyerahkan buku Kurikulum Sekolah Tarjih di Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah kepada jajaran PDM Surabaya dalam Rapat Kerja PDM Kota Surabaya di Gedung BPSDM Provinsi Jawa Timur, Sabtu (23/7).

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya Dr Thoat Setiawan MHI menjelaskan, pedoman Perkaderan Ulama Tarjih Muhammadiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut disusun berdasarkan kebutuhan yang dirasakan oleh sivitas akademika FAI UM Surabaya dalam membina dan mencetak calon ulama tarjih Muhammadiyah.

“Penyusunan pedoman ini didasarkan pada Pedoman Perkaderan Ulama Tarjih Muhammadiyah yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Tahun 2017,” terangnya.

Thoat menambahkan, pedoman tersebut sangat penting sebagai panduan, baik bagi pengelola, dosen, staf akademik dan kemahasiswaan, maupun bagi mahasiswa program kader tarjih. Juga bagi pihak-pihak lain yang berminat untuk mengetahui lebih luas tentang tata cara pengelolaan mahasiswa kader tarjih di lingkungan FAI UM Surabaya.

Pedoman Perkaderan Ulama Tarjih Muhammadiyah ini disusun dengan sejumlah tujuan . Pertama, sebagai acuan bagi penilaian dan pengembangan program perkaderan tarjih di lingkungan Fakultas Agama Islam UM Surabaya.

Kedua, meningkatkan program pengelolaan pendidikan tinggi yang memiliki muatan optimal, baik moral maupun intelektual.

Ketiga, menampilkan sinergi yang lebih manfaat antara Fakultas Agama Islam UM Surabya dan Ma’had Umar ibn Al Khaththab untuk mewujudkan perkaderan ulama di lingkungan Muhammadiyah.

Keempat, membuat acuan program perkaderan ulama, baik yang berupa pendidikan khusus maupun pelatihan.

“Sebagai bagian dari persyarikatan Muhammadiyah, Fakultas Agama Islam UM Surabaya tentu berharap lulusan dengan berbagai profesi tersebut tetap dapat menjaga almamater UM Surabaya dan menjadi kader bagi persyarikatan Muhammadiyah. Secara lebih spesifik, diharapkan lulusan Fakultas Agama Islam UM Surabaya dapat menjadi Kader Ulama Muhammadiyah, khususnya di bidang ketarjihan,” tuturnya.

“Di sisi lain, kebutuhan Muhammadiyah pada berbagai level kepemimpinan, baik pada tingkat daerah, cabang, maupun ranting, terhadap adanya lulusan pendidikan tinggi yang memiliki konsentrasi terkait perkaderan Muhammadiyah sangatlah tinggi,” imbuhnya.

Thoat melanjutkan, menurut bahasa/etimologis, “ulama” berasal dari kata kerja dasar  “alima” (telah mengetahui) berubah menjadi kata benda pelaku “alimun” (orang yang mengetahui mufrad/ singular) dan “ulama” (jam’u taktsir/irregular plural).

Ulama memiliki peran sentral di tengah kehidupan umat  untuk melanjutkan risalah kenabian sepeninggal Nabi Muhammad saw (al-‘ulama’u waratsat al-anbiya). Karena itu, seharusnya umat memberikan perhatian yang sangat serius terhadap eksistensi dan kualitas ulama.

“Pentingnya posisi ulama di tengah umat saat ini membawa konsekuensi bahwa mereka seharusnya mempertimbangkan dengan serius suatu program pengkaderan dan pemberdayaan ulama. Upaya perkaderan ulama tersebut wajib mendapat dukungan dari seluruh komponen umat, termasuk persyarikatan Muhammadiyah,” paparnya.

Thoat melanjutkan, Muhammadiyah adalah organisasi besar di Indonesia dengan ribuan amal usaha dan jutaan warga. Amal usaha dan warga yang sangat besar sangat membutuhkan ulama sebagai pembawa misi gerakan dakwah Muhammadiyah untuk memberi penerangan, nasihat, teladan, ilmu dan pemikiran, agar semuanya tetap berada di jalan yang benar sesuai dengan cita-cita Muhammadiyah.

“Apalagi Muhammadiyah menyatakan sebagai gerakan dakwah Islam yang membawa ruh tajdid, ruh pembaharuan dengan ciri karakter dan cita rasa untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tentu membutuhkan ulama yang mengerti terhadap jiwa dan denyut nadi perjuangan Muhammadiyah,” pungkasnya. (Yuda/AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini