5 Juli 2026
Surabaya, Indonesia
Opini

Panenka Mohamed Salah dan Penghormatannya terhadap Australia

Mohamed Salah mengeksekusi penalti dengan teknik Panenka saat adu penalti melawan Australia pada babak gugur Piala Dunia 2026. (vietnam.vn)

Haidir Fitra Siagian
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Sama dengan pertandingan sebelum-sebelumnya, saya tidak berhasrat menyaksikan secara langsung pertandingan Mesir melawan Australia di babak gugur Piala Dunia 2026. Namun, ketika membaca berbagai laporan dan melihat cuplikan pertandingan, saya menyadari bahwa laga ini menghadirkan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar soal menang dan kalah.

Terus terang, saya juga sulit menentukan akan mendukung siapa: Australia atau Mesir. Di satu sisi, tentu kita sebagai bangsa Indonesia memiliki kedekatan emosional dengan Mesir. Banyak alumni pesantren yang memperdalam ilmu agama di negara ini. Muhammadiyah telah memiliki amal usaha di sana. Mesir juga termasuk negara yang lebih awal mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1946. Secara pribadi, sejak lama saya selalu memiliki simpati kepada negara-negara yang tidak terlalu diunggulkan di Piala Dunia. Ada kebahagiaan tersendiri ketika mereka mampu membuat kejutan dan menorehkan sejarah.

Di sisi lain, Australia juga memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidup kami sekeluarga. Kami pernah tinggal di Australia selama sekitar empat tahun. Tiga orang anak kami menyelesaikan pendidikan tingkat SMP dan SMA di sana. Bahkan, saya pernah mendapat kepercayaan memimpin Pimpinan Ranting Muhammadiyah New South Wales (NSW) selama satu periode. Pengalaman itu membuat saya mengenal masyarakat Australia sebagai bangsa yang terbuka dan multikultural.

Australia juga memiliki hubungan sejarah yang baik dengan Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan, serikat buruh pelabuhan Australia menolak membantu kapal-kapal Belanda yang hendak mengirim pasukan dan logistik ke Indonesia. Setelah itu, Australia menjadi anggota Komisi Tiga Negara yang ikut membantu penyelesaian konflik antara Indonesia dan Belanda melalui jalur diplomasi. Banyak pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di berbagai universitas di Benua Selatan ini. Muhammadiyah juga telah memiliki sekolah di sana. Karena itu, bagi saya, Mesir dan Australia sama-sama memiliki tempat yang baik dalam sejarah Indonesia.

Makna Sebuah Penghormatan

Fokus saya bukan kepada siapa yang menang. Perhatian saya justru tertuju pada Mohamed Salah saat adu penalti. Kapten Mesir itu memilih mengeksekusi penalti dengan teknik Panenka. Bola ditendang pelan ke tengah gawang ketika penjaga gawang Australia, Mat Ryan, sudah lebih dahulu bergerak ke salah satu sisi. Tendangan itu berhasil dan menjadi salah satu momen yang paling banyak dibicarakan setelah pertandingan.

Sebagian orang menilai Panenka sebagai simbol kepercayaan diri. Sebagian lainnya menganggapnya terlalu berani, bahkan terkesan meremehkan lawan. Namun, menurut saya, sebuah tindakan tidak boleh dinilai hanya dari satu momen. Yang lebih penting adalah melihat keseluruhan sikap seseorang.

Beberapa detik setelah Mesir memastikan kemenangan, Mohamed Salah tidak langsung berlari merayakan keberhasilan bersama rekan-rekannya. Ia justru lebih dahulu menghampiri para pemain Australia yang tampak kecewa. Ia menyalami mereka, memeluk beberapa pemain, dan memberikan kata-kata penghiburan. Setelah itu, barulah ia ikut merayakan kemenangan bersama timnya.

Bagi saya, di situlah letak pelajaran yang paling berharga.

Dalam ilmu komunikasi, tindakan Salah merupakan contoh komunikasi nonverbal yang sangat kuat. Pelukan, jabat tangan, tepukan di bahu, dan ekspresi wajah sering kali menyampaikan pesan yang lebih dalam daripada kata-kata. Tanpa berbicara panjang, Salah menunjukkan bahwa pertandingan telah selesai, tetapi rasa hormat kepada lawan tetap harus dijaga.

Tindakan itu juga mencerminkan komunikasi sosial yang sehat. Selama pertandingan, kedua tim adalah lawan yang sama-sama berusaha meraih kemenangan. Namun, setelah peluit panjang dibunyikan, hubungan antarmanusia harus kembali dibangun. Persaingan tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Olahraga justru menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan dan saling menghargai.

Akhlak di Atas Kemenangan

Sikap Salah memperlihatkan tiga nilai penting. Pertama, respek, yaitu menghargai perjuangan lawan. Kedua, empati, yaitu mampu merasakan kesedihan yang sedang dialami pihak yang kalah. Ketiga, simpati, yaitu menunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata. Ketiga nilai ini membuat kemenangan terasa lebih bermakna karena tidak menghilangkan martabat pihak yang kalah.

Nilai-nilai tersebut juga sejalan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak bersikap sombong ketika memperoleh keberhasilan (QS Luqman: 18). Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal serta membangun hubungan yang baik (QS Al-Hujurat: 13). Kemenangan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Rasulullah SAW memberikan teladan yang sama. Ketika memasuki Makkah sebagai pemenang dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau tidak menunjukkan kesombongan, melainkan kerendahan hati dan rasa syukur. Peristiwa itu mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya mengalahkan lawan, tetapi juga mampu mengendalikan diri dari sifat angkuh.

Dalam konteks itulah saya memandang tindakan Mohamed Salah. Panenka yang ia lakukan adalah bagian dari strategi permainan. Namun, pelukan dan penghormatan yang ia berikan kepada para pemain Australia menunjukkan kualitas akhlaknya sebagai seorang atlet. Ia tampil berani ketika pertandingan berlangsung, tetapi tetap rendah hati ketika pertandingan berakhir.

Sepak bola memang menghasilkan juara. Namun, lebih dari itu, sepak bola juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Anak-anak yang menyaksikan pertandingan mungkin akan mengingat indahnya gol Panenka Mohamed Salah. Akan tetapi, saya berharap mereka juga mengingat pelajaran yang lebih penting, yaitu bagaimana menghormati lawan setelah meraih kemenangan.

Pada akhirnya, trofi akan berpindah tangan, rekor akan terpecahkan, dan pertandingan akan berlalu. Namun, sikap saling menghormati, empati, dan akhlak yang baik akan selalu dikenang. Itulah kemenangan yang sesungguhnya, bukan hanya di lapangan hijau, tetapi juga dalam kehidupan sebagai sesama manusia. (*)

Sudiang, Makassar, 4 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *