17 April 2026
Surabaya, Indonesia
Opini

Empati dan Realitas Sosial: Kemanusiaan dalam Sosok dr Bajora

dr Bajora Muda Siregar (Istimewa)

Haidir Fitra Siagian
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar / alumni SD Negeri 4 Hutasuhut Sipirok

Kasus yang melibatkan dr Bajora Muda Siregar bagi saya tidak hanya menarik perhatian karena peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan, tetapi juga karena cara khalayak memaknainya dalam kerangka nilai yang lebih luas. Di luar aspek hukum, saya melihat respons sosial yang berkembang justru memperlihatkan peran agama, filsafat, dan komunikasi sosial secara bersamaan.

Sosok dr Bajora tidak lagi dipandang sekadar sebagai individu dalam sebuah peristiwa, tetapi sebagai figur dengan jejak pengabdian dan makna simbolik. Dalam konteks ini, publik merespons bukan hanya dengan logika, tetapi juga dengan rasa. Resonansi emosional ini lahir dari ingatan kolektif yang panjang tentang kebaikan yang pernah ia tanamkan di tengah masyarakat.

Ingatan Kolektif dan Jejak Kebaikan

Sejujurnya, saya sendiri tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Sejak meninggalkan Sipirok dan merantau ke Makassar pada pertengahan 1990-an, nama beliau nyaris tidak lagi saya dengar. Namun, dalam beberapa hari terakhir, namanya kembali muncul dan ramai diperbincangkan. Foto atau videonya yang berjalan ke luar rumah tentu menimbulkan empati. Hal ini pula yang membuat saya kembali mengingat jejak lama yang pernah hidup dalam ingatan masyarakat.

Jika saya menengok ke masa kecil pada 1980-an, nama dr Bajora sudah cukup akrab di telinga saya. Saat itu saya masih duduk di bangku SD hingga SMP, dan masyarakat Sipirok sering menyebut namanya. Jika ada warga yang hendak berobat ke Padangsidimpuan, hampir dapat dipastikan tujuannya adalah beliau. Nama itu menjadi simbol kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Naik harkat dan martabat seseorang jika merasa sudah pernah berobat kepadanya.

Tadi saya sempat menelepon ibu saya, Hj Nursyawalinah Pakpahan, di Hutasuhut Sipirok, untuk menanyakan tentang beliau. Menariknya, ibu saya tidak mengetahui apa yang sedang viral saat ini. Namun, ia langsung mengenang sosok dr Bajora sebagai dokter yang baik dan dermawan. Ia pernah dua kali mengantar keluarga kami berobat ke sana, meskipun hanya sebagai pendamping.

Dari cerita ibu saya, saya mengetahui bahwa dr Bajora pernah membiayai pendidikan seorang kakak kelas saya hingga menjadi dokter di Pulau Jawa. Bahkan, setelah berhasil, ia dinikahkan dengan putri beliau sendiri. Tidak hanya itu, beliau juga membantu pembangunan madrasah Islamiyah di Dusun Panggulangan, tempat kelahiran pejuang kemerdekaan Sahala Muda Pakpahan. Dalam sebuah peresmian, beliau bahkan membagikan amplop kepada ibu-ibu yang hadir, termasuk ibu saya. Jadi, secara langsung ibu saya pun pernah merasakan kedermawanan sang dokter.

Cerita-cerita sederhana ini bagi saya cukup menjelaskan mengapa masyarakat Padangsidimpuan, Sipirok, dan Tapanuli Selatan memberikan simpati yang begitu besar. Sosok beliau tidak hanya dikenal sebagai dokter, tetapi juga sebagai pribadi yang peduli. Jejak kebaikan itu hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Dari situlah empati publik hari ini menemukan pijakannya.

Perspektif Agama dan Filsafat

Dalam perspektif agama, saya melihat sosok dr Bajora melalui lensa amal kebaikan dan penghormatan terhadap sesama. Pengabdian beliau sebagai dokter membentuk kesan sebagai pribadi yang menjalankan amal jariyah. Karena itu, masyarakat tidak hanya melihat peristiwa sekarang, tetapi juga perjalanan hidupnya. Nilai moral ini menjadi dasar dalam membangun empati.

Saya teringat firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 23 yang menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang tua. Ayat tersebut mengajarkan agar manusia memperlakukan orang tua dengan penuh penghormatan dan kelembutan. Dalam konteks ini, respons masyarakat tampak selaras dengan nilai tersebut, karena mereka memandang dr Bajora sebagai sosok orang tua. Ada kesadaran religius yang hidup dalam cara mereka memahami peristiwa ini.

Nilai ihsan dan rahmah juga tampak kuat dalam respons publik. Masyarakat seolah menempatkan sosok lansia sebagai pribadi yang harus dimuliakan. Empati yang muncul bukan sekadar emosi sesaat, tetapi refleksi dari nilai keagamaan yang tertanam. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi spiritual masih sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial.

Dari sudut pandang filsafat, saya melihat peristiwa ini sebagai refleksi tentang kebajikan dan keadilan. Dalam etika kebajikan, seseorang dinilai dari karakter dan kontribusinya sepanjang hidup. Sosok dr Bajora dipandang sebagai pribadi yang memiliki kebajikan karena pengabdiannya. Karena itu, publik cenderung menilai beliau secara moral.

Namun, saya juga melihat adanya ketegangan antara keadilan formal dan keadilan manusiawi. Apa yang benar secara aturan belum tentu terasa adil secara batin. Dalam konteks ini, simpati masyarakat menjadi bentuk respons terhadap ketegangan tersebut. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya berpikir rasional, tetapi juga merasakan.

Secara eksistensial, peristiwa ini mengingatkan bahwa setiap manusia akan menghadapi keterbatasan. Sosok yang dahulu kuat dan berjasa pun tetap akan mengalami fase rentan, yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kesadaran inilah yang membuat publik merasa dekat secara emosional. Simpati yang muncul menjadi refleksi dari pengalaman kemanusiaan bersama.

Komunikasi Sosial dan Empati Publik

Dalam perspektif komunikasi sosial, saya melihat bagaimana reputasi memainkan peran besar dalam membentuk opini publik. Nama dr Bajora sudah lama hidup dalam ingatan masyarakat sebagai dokter yang baik. Ketika peristiwa ini terjadi, persepsi itu langsung memengaruhi cara publik menafsirkan. Empati pun terbentuk secara alami.

Media sosial juga mempercepat penyebaran emosi kolektif. Visual yang menyentuh mampu membangun simpati dalam waktu singkat. Dalam konteks ini, komunikasi tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk makna. Opini publik akhirnya lebih banyak dipengaruhi oleh resonansi emosional.

Pada akhirnya, bagi saya, kasus ini bukan sekadar tentang satu peristiwa yang ramai diperbincangkan di media sosial. Bajora Muda Siregar menjadi representasi dari nilai pengabdian, kebajikan, dan kemanusiaan. Saya tidak masuk pada aspek hukum karena itu bukan ranah saya. Namun, sebagai pengamat komunikasi sosial, saya melihat betapa masyarakat memberi perhatian besar kepada sosok yang dermawan.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa manusia tidak pernah dinilai dari satu kejadian saja. Ia dinilai dari perjalanan hidup dan dari kebaikan yang pernah ditanamkan. Dalam hal ini, empati masyarakat menjadi sesuatu yang wajar dan manusiawi. Mungkin di situlah kita belajar memahami makna terdalam dari kemanusiaan. Wallahu’alam. (*)

Makassar, 17 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *