Di Hari Raya Ini Maukah Kau Jadi Anakku?

0
158

Oleh: R. Fauzi Fuadi

KLIKMU.CO

Lebaran memang bisa membuat kita melupakan kepenatan dan persoalan hidup, setidaknya untuk sementara waktu. Membuat siapa saja merayakan hari kemenangan dengan penuh suka cita, canda, dan tawa. Saling berbagi cerita bersama saudara dan keluarga. Tapi tidak dengan seorang anak yang tak lagi memiliki apa-apa.

Selepas salat Id kemeriahan Lebaran berpindah ke rumah-rumah. Orang-orang berombongan, bergantian saling mengunjungi, bermaafan, menghidangkan kue-kue, menyajikan minuman. Dan seperti biasa, Rasulullah saw. pun mengunjungi rumah demi rumah untuk sekadar bersilaturrahmi dan mendoakan kaum muslimin. Semua orang mengeluarkan wajah penuh gembira merayakan hari kemenangan, tak terkecuali anak-anak yang menampilkan wajah semringah, mereka bermain sambil berlarian dengan baju baru mereka.

Tapi mata Rasulullah tertuju pada salah seorang anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan. Ia hanya termangu melihat kegembiraan dan keceriaan kawan-kawan sebayanya dengan kesedihan yang terpancar pada raut muka yang penuh debu, baju yang dikenakannya pun terlihat koyak, penuh tambalan, dan sepatu usang yang tak lagi layak pakai.

Demi melihatnya yang hanya duduk seorang diri, Rasulullah bergegas menghampirinya, namun anak ini berusaha untuk menyembunyikan wajah kalutnya dengan kedua tangannya. Tak lama ia menangis tersedu. Beliau kemudian meletakan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepalanya.

“Nak, mengapa kau menangis? Mengapa kau tak bermain bersama mereka?” Rasulullah mengawali percakapan. Saat itu, ia masih belum mengerti jika seseorang yang ada dihadapannya adalah Nabi Muhammad.

“Pada hari raya ini, semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama kedua orangtuanya dengan berbahagia. Semua anak bermain dengan riang gembira. Namun, pada titik inilah ku teringat sosok ayah. Itulah mengapa aku menangis mengingat ayahku yang telah gugur dalam medan perang bersama Rasulullah.” Ia mengambil jeda sejenak, berusaha untuk meneroka seluruh memori dalam benaknya. Sementara Rasulullah terus mengikuti alur kisahnya, beliau mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa demi peristiwa dan nasib malang yang menimpanya.

“Sementara ibuku menikah lagi. Namun, ia telah memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan ayah tiriku dengan teganya mengusirku dari rumah ku sendiri. Kini, aku tak lagi memiliki apa pun kecuali pakaian yang ku kenakan ini. Aku kini sendiri, hanya ditemani sunyi dan sepi. Tetapi hari ini aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama kedua orangtua mereka. Dan perasaanku kini dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa sosok ayah dan ibu. Karenanya aku menangis.” Air matanya semakin membasahi tanah. Debu di mukanya tersapu dengan lelehan air mata, yang menyisakan goresan di pipi.

Setelah mendengar penuturannya, seketika Rasulullah diliputi kesedihan yang mendalam, beliau dapat merasakan kesedihan itu dalam batinnya. Ternyata ada anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang seperti ini. Rasulullah tak ingin ia berlama-lama meratapi kekalutan hidupnya.

Rasulullah segera menguasai diri. Beliau megusap-usap pundaknya sejenak lantas menggengam lengannya.

“Nak, dengarkan baik-baik. Aku tahu hatimu bersedih atas semua kisah indah terhadap keluargamu. Karenanya apakah kau sudi bila aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah.

Mendengar tawaran itu, ia menghentikan tangisnya, perlahan ia menepikan tangan dari mukanya. Dan kini ia mengerti bahwa orang yang ada dihadapannya tak lain adalah Nabi Muhammad saw. “Kenapa tak sudi, ya Rasulullah?” jawabnya dengan penuh suka cita.

Rasulullah kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dipakaikan kepadanya pakaian yang indah, dipersilakan makan, penampilannya diperhatikan lalu diberi wewangian. Dan kini ia menjelma sebagai anak yang setara dengan anak-anak lainnya.

Setelah itu, ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum tersungging di wajahnya yang semakin berseri. Mendapati perubahan drastis pada anak ini, salah satu kawan sebayanya tak menyangka ia berubah secepat itu, “Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira, sebenarnya apa yang terjadi padamu?”

“Benar kawan, tadinya aku lapar, tetapi sekarang tak lagi. Aku sudah kenyang. Dulunya aku memang tak mengenakan pakaian layaknya kawan-kawan, tetapi lihatlah, sekarang aku mengenakan pakaian yang layak. Dulu aku adalah anak yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian kepadaku. Rasulullah saw. ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah saudariku.”

Demi mendengar penuturannya, kawan-kawannya nampak menginginkan nasib serupa. “Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah,” pungkas salah satu di antara mereka.

***

Lihainya waktu menipu. Usianya semakin bertambah. Kebahagiaan ini pada akhirnya tercerabut dan lenyap ketika selang beberapa tahun setelah itu, Rasulullah meninggal dunia. Untuk meratapi kepergian ayah angkat paling mulia ini, ia lantas keluar rumah seraya menaburkan debu di atas kepalanya.

“Celaka, sungguh celaka. Kini aku kembali yatim dan terasing. Kini aku bukan siapa-siapa lagi,” ujarnya seraya terisak. Mendapati anak ini yang sedang murung dalam kesedihan, Abu Bakar segera menghampiri dan memeluknya. Lantas Abu Bakar mengambil alih pengasuhannya.

Ayah, terimakasih telah menyayangiku sepenuh hati

Aku yang masih berjalan sendiri merespons bentuk bahagia

Aku yang kini fasih memikul rasa sedih dan kecewa

Aku yang terus menyamankan diri dari cara takdir membagikan ilmu ikhlasnya.

Allahu akbar wa lillahilham…

*) Dinukil dari hadis yang mengisahkan, pada suatu Idul Fitri Nabi Muhammad saw membawa pulang seorang anak yatim yang ayahnya syahid di Perang Badar. Dan puisi dalam penggalan lagu Kunto Aji – Pilu Membiru (dengan penyesuaian)

*) Jurnalis media daring dan pembina khusus jurnalistik di Ponpes Karangasem Paciran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here