Ibrah Kehidupan #85: Abu Darda’, Kisah Masuk Islamnya (-2).

0
209
Ilustrasi diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sahabat yang mulia Abu Darda’, Sebelum hidayah Islam menembus hatinya, Abu Darda’ memiliki berhala yang senantiasa diagungkan serta dilumuri dengan minyak wangi yang termahal dan diberi baju dari kain sutera. Beliau memiliki sahabat bernama Abdullah bin Rawahah yang terlebih dahulu memeluk Islam. Tanpa kenal lelah lelaki ini berupaya mengentaskan Abu Darda’ dari lembah kesyirikan.

Ketika Abu Darda’ sibuk berdagang ditokonya, Abdullah bin Rawahah berkunjung ke rumah dan ditemui Ummu Darda’. Setelah dipersilakan masuk lantas istri Abu Darda’ meninggalkannya untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Saat itu Abdullah bin Rawahah masuk ke sebuah kamar di mana berhala itu diletakkan, dibawanya keluar kemudian dirusaknya hingga hancur berantakan, seraya mengatakan : “Sungguh segala yang disembah selain Allah adalah batil. Sungguh sesembahan yang disembah selain Allah adalah batil”.

Ketika istri Abu Darda’ melihat tragedi itu ia pun marah dan menangis, tak lama berselang, sang suami tiba, seketika itu pula api kemarahan menyala dan berkobar, namun akhirnya tersadar menyaksikan berhala yang dipujanya telah hancur lantas berkata : “Andaikata berhala tersebut memiliki kekuatan tentu ia bisa menyelamatkan diri atau membela dirinya dari penghancuran”.

Saat itulah benih-benih keimanan kepada Allah mulai tumbuh. Akhirnya bersama sahabat terbaiknya, beliau menyatakan keislamannya di hadapan Rasululloh saw. Abu Darda’ adalah penduduk terakhir dari desanya yang menyambut seruan Islam.
Abu Darda’ Pribadi Penuh Pesona. Setiap sahabat Rasulullah saw mempunyai keistimewaan tersendiri. Begitu pula dengan beliau, tak kenal lelah mengejar ketertinggalannya untuk belajar Islam, seakan-akan masa mudanya yang kelabu terus memacu semangatnya untuk menjadi pribadi yang meraup banyak kebaikan.

Kehidupannya sehari-harinya sangat sederhana. Ketika ada orang bertanya : “Dimana perabot dan hartamu ?”, beliau menjawab: “Dirumah kami yang disana (di akhirat). Kami kirimkan semua kesana harta dan perabot yang kami punya. kalaupun masih ada yang tersisa disini, tentu sudah aku berikan untuk kalian”.

Hati beliau telah dipenuhi perasaan cinta pada akhirat, hari-harinya sarat dengan dzikir, mengajarkan Kitabullah dan Sunnah Nabinya, dan mengimami sholat jama’ah. Abu Darda’ berkeliling ke pasar-pasar, membuka majlis-majlis taklim dan bermu’amalat dengan manusia dengan akhlak mulia.

Diantara nasehat Abu Darda’ adalah : “Ingatlah Allah saat engkau lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat engkau sempit, jadilah seorang ‘alim atau seorang pengajar, atau seorang pendengar (kebenaran). Jangan menjadi orang keempat ( seorang jahil dan bodoh ), niscaya engkau akan binasa. Jadikan masjid sebagai rumahmu”.

Ibrah dari Kisah ini:

Abu Darda’ , proses masuk Islamnya sangat unik dan sederhana sekali. Ketika berhalanya dirusak orang (temannya), dia cepat berfikir : andaikata berhala ini memang berkuasa tentu dia akan mampu menyelamatkan dirinya sendiri ketika dirusak orang. Dengan kejadian itu maka beliau menyatakan keislamannya.

Wahai kader 1912 sosok Abu darda’, memang pribadi penuh pesona. Dia sama sekali tidak silau dengan kemewahan dunia, dan tidak akan melalaikannya sekadar untuk hidup. Kehidupan akhirat baginya jauh lebih penting dan mulia. Abu darda’ memang patut disebut sebagai pengajar dan pembelajar.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Suraabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here