15 Mei 2026
Surabaya, Indonesia
Opini

Keindahan yang Tersembunyi dalam Ayat Kursi

Keindahan yang Tersembunyi dalam Ayat Kursi (Shutterstock)

Dwi Taufan Hidayat
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PCM Bergas, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kab Semarang

Sering kali kita membaca Ayat Kursi dengan tergesa, seolah ia hanya bagian dari rutinitas tanpa makna yang dalam. Padahal, di balik setiap katanya tersimpan susunan yang begitu rapi, simetris, dan penuh pesan tentang keagungan Allah. Ketika kita berhenti sejenak untuk merenung, ayat ini bukan hanya dibaca, tetapi dirasakan, dipahami, dan menghidupkan kesadaran dalam hati.

Ada sesuatu yang sering luput dari perhatian kita. Kita membaca, menghafal, bahkan menjadikannya pelindung harian, tetapi jarang benar-benar menelusuri keindahan susunannya. Ayat Kursi bukan sekadar kumpulan kata yang indah, melainkan sebuah struktur yang tersusun seperti cermin. Awal dan akhirnya saling menguatkan, sementara bagian tengahnya menjadi pusat makna. Ini bukan kebetulan, melainkan bukti bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan kesempurnaan yang melampaui kemampuan manusia.

Allah berfirman dalam Ayat Kursi, sebuah ayat yang menjadi pusat kekuatan tauhid dalam Al-Qur’an:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi, dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Struktur Simetris yang Menakjubkan

Perhatikan bagaimana ayat ini dimulai dengan penegasan tauhid: “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia,” lalu ditutup dengan kemuliaan-Nya: “Dia Maha Tinggi, Maha Besar.” Di antara pembuka dan penutup itu, tersusun penjelasan tentang sifat-sifat-Nya yang sempurna. Seolah-olah kita diajak masuk dari pintu pengenalan, lalu berjalan menuju puncak pengagungan.

Kemudian, bagian “tidak mengantuk dan tidak tidur” berpasangan dengan “tidak merasa berat memelihara keduanya.” Ini bukan sekadar pengulangan makna, tetapi penegasan bahwa Allah tidak memiliki kelemahan sedikit pun. Tidak pada awal penjagaan, tidak pula pada akhirnya. Semua berlangsung sempurna tanpa cela.

Dan di tengah-tengah ayat ini, ada inti yang menjadi porosnya: ilmu Allah. “Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka.” Inilah pusat dari semuanya. Bahwa seluruh kekuasaan, penjagaan, dan kebesaran Allah berpijak pada ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi dan tidak ada yang luput.

Mengapa Disebut “Kursi”?

Lalu muncul pertanyaan yang sering terlintas: mengapa Allah menggunakan kata “kursi” dan bukan “arsy”? Di sinilah kehalusan bahasa Al-Qur’an terasa. Para ulama menjelaskan bahwa kursi menggambarkan keluasan kekuasaan yang dapat dijangkau pemahaman manusia, sementara arsy lebih agung lagi, melampaui bayangan kita. Pemilihan kata ini bukan tanpa maksud, tetapi sebagai jembatan agar manusia bisa sedikit memahami kebesaran-Nya.

Sayangnya, ketika kita hanya membaca terjemahan tanpa merenungi struktur dan pilihan katanya, rasa keindahan itu perlahan hilang. Kita mendapatkan makna, tetapi kehilangan getaran. Padahal, Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk dipahami secara logika, tetapi juga untuk menggetarkan hati.

Rasulullah pun mengajarkan keutamaan Ayat Kursi dalam sebuah hadis yang diriwayatkan:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟» قَالَ: قُلْتُ: اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، قَالَ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ: «وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ»

Artinya: Dari Ubay bin Ka’ab, Nabi bersabda: “Wahai Abu Mundzir, tahukah engkau ayat mana dari Kitab Allah yang paling agung yang engkau miliki?” Ia menjawab: “Allah لا إله إلا هو الحي القيوم.” Maka beliau menepuk dadaku dan berkata: “Demi Allah, semoga ilmu itu membahagiakanmu, wahai Abu Mundzir.” (HR Muslim)

Ayat ini bukan sekadar bacaan pelindung, tetapi pintu untuk mengenal Allah lebih dalam. Setiap katanya mengandung makna dan setiap susunannya menyimpan hikmah. Ketika kita mulai memperlambat bacaan, memperhatikan pola, dan merenungi pilihan katanya, kita akan menemukan bahwa Al-Qur’an berbicara lebih dari sekadar arti. Ia berbicara langsung kepada hati.

Maka, sudah saatnya kita tidak lagi membaca dengan terburu-buru. Berhenti sejenak, resapi setiap lafaz, dan biarkan hati ikut hadir dalam setiap bacaan. Karena di situlah letak keajaiban sebenarnya: bukan hanya pada apa yang kita baca, tetapi pada bagaimana kita memahaminya.

Dan mungkin, dari satu ayat yang kita renungi dengan sungguh-sungguh, lahir perubahan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *