KLIKMU.CO – Di tengah ancaman krisis iklim dan persoalan sampah makanan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia, momen Idul Adha tidak lagi sekadar ritual penyembelihan hewan. Pesan kuat mengenai kepedulian ekologis menggema saat ribuan jamaah Shalat Idul Adha 1447 H memadati area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (27/5/2026). Ibadah ini menjadi momentum refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan sifat konsumtif yang merusak tatanan bumi.

Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Dr H Achmad Jainuri MA mengingatkan bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban menjaga kelestarian alam.
Dia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang makanan dan terjebak gaya hidup konsumtif, sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia.
“Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah. Kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkurban harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya.

Lebih jauh, Jainuri menjelaskan bahwa kurban merupakan simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan peradaban. Ia menilai umat Islam mampu mengembalikan kejayaan masa lalu apabila bersedia menyingkirkan egosentrisme yang menghambat kepedulian terhadap sosial dan lingkungan.
“Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan menciptakan kebaikan dan menjaga keseimbangan kehidupan dengan menyingkirkan rintangan dalam diri kita sendiri,” paparnya.
Sejalan dengan itu, Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA mengaitkan nilai pengorbanan dengan dunia pendidikan. Dia menegaskan bahwa pencetakan generasi unggul membutuhkan kerja keras berbasis ketauhidan dan kasih sayang, bukan sekadar slogan keagamaan tanpa dampak nyata.
“Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius, melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sejalan dengan fungsi perguruan tinggi sebagai solution center of excellence,” ungkapnya.
Perayaan Idul Adha di Kampus Putih ini meninggalkan pesan esensial bagi umat manusia. Menyembelih hewan kurban hanyalah awal, sementara ujian sesungguhnya adalah kemampuan menahan sifat rakus dan ketidakpedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui integrasi kesalehan ritual, pendidikan, dan kepedulian ekologis, diharapkan lahir peradaban unggul yang menebar rahmat bagi semesta.
(Faqih/AS)








